BAB
I
PENDAHULUAN
Kita
telah menyelesaikan beberapa pembahasan materi berkaitan dengan PTK,
mengerjakan
latihan dan menyelesaikan tes formatif sebagaimana dibahas pada
unit-unit
sebelumnya. Dengan memahami materi dan langkah-langkah penyusunan proposal PTK
yang dipaparkan pada unit sebelumnya, Kita telah memiliki kerangka acuan dalam
pelaksanaan PTK. Pada unit ini Kita diajak untuk mengkaji lebih mendalam salah
satu komponen penting di dalam proposal yang Kita susun yaitu tentang
pengumpulan data dalam PTK. Untuk dapat melakukan kegiatan pengumpulan data
dengan baik, Kita terlebih dahulu perlu memahami jenis-jenis data, jenis-jenis
alat pengumpulan data dan cara pengumpulan data. Sesuai dengan judul unit ini,
maka pembahasan yang lebih rinci dijabarkan ke dalam dua subunit yang saling
terkait, yaitu jenis-jenis data dalam penelitian, jenis-jenis alat pengumpulan data
baik melalui teknik tes maupun teknik-teknik non tes. Untuk teknik non tes
pembahasan lebih difokuskan pada penggunaan observasi dan wawancara. Melalui
pembahasan, latihan-latihan, diskusi yang dilakukan serta
menyelesaikan
tes formatif yang disediakan Kita diharapkan dapat menjelaskan secara rinci
tentang:
1. Jenis-jenis
data dalam penelitian;
2. Teknik tes
untuk pengumpulan data;
3. Teknik non
tes untuk pengumpulan data.
Untuk membantu
mendalami uraian ini diharapkan Kita melakukan latihanlatihan sendiri dan
diskusi dengan rekan-rekan Kita, terutama dalam mengkaji bagian-bagian
yang sulit Kita pahami. Kita juga dapat melakukan simulasi pengumpulan data
bersamaan dengan penyelenggaraan proses pembelajaran yang
Kita lakukan,
sehingga Kita terlatih melakukan pengumpulan data ketika PTK dilaksanakan. Untuk membantu memperdalam
materi serta mengukur pemahaman Kita dari materi
yang dibahas maka pada bagian akhir tiap-tiap subunit disediakan tes formatif.
Kesungguhan Kita di dalam menyelesaian tes tersebut akan sangat membantu untuk
mengukur penguasaan materi ini.
BAB
II
PEMBAHASAN
Subunit 1
Jenis Data dan
Penggunaan Teknik Tes untuk Pengumpulan Data
Pembahasan
pada subunit ini difokuskan pada jenis-jenis data dan penggunaan teknik-teknik
tes dalam pengumpulan data. Langkah-langkah yang diuraikan dalam subunit
ini sebenarnya merupakan satu kesatuan yang utuh dengan langkahlangkah yang telah Kita
kaji pada unit sebelumnya dan sub-sub unit berikutnya.
Pengkajian yang
terdiri dari jenis-jenis data dan teknik pengumpulan data melalui teknik-teknik
tes akan mengarahkan Kita pada pemahaman yang mantap tentang langkah-langkah
PTK sebagai satu kesatuan yang utuh. Pemahaman ini akan memandu Kita
untuk mampu melaksanakan PTK yang akan dilengkapi pada
pembahasan di
unit-unit berikutnya. Setelah
menyelesaikan subunit ini diharapkan Kita dapat menjelaskan dan merinci
jenis-jenis data dan cara-cara pengumpulan data melalui beberapa teknik tes.
Untuk
mencapai tujuan tersebut, kajilah materi berikut dengan cermat, serta kerjakan latihan secara
disiplin. Sebagaimana unit-unit sebelumnya, dalam bagian ini Kita juga dituntut
untuk menggali pengalaman praktis Kita, sehingga sajian yang bersifat teoritik dapat Kita
padukan langsung dengan praktik pembelajaran yang Kita lakukan. Oleh
sebab itu Kita diharapkan dapat mengkaji secara seksama subunit ini,mengerjakan
latihan-latihan yang disediakan serta menyelesaikan tes formatif pada bagian akhir
subunit ini.
A. Jenis-jenis
Data dalam Penelitian
Dalam
kegiatan pembelajaran yang Kita lakukan sehari-hari, sesungguhnya
Kita berhadapan
dengan data. Hampir tidak ada aktivitas atau langkah pembelajaran yang tidak
terkait dengan data. Ketika Kita memberikan pertanyaan kepada siswa, tentu Kita
ingin mengetahui apakah siswa tersebut mendengar dan memahami apa yang Kita
jelaskan bukan? Atau Kita ingin mengetahui tingkat keaktifan siswa tersebut.
Ketika Kita memberikan soal-soal latihan, memberikan pekerjaan rumah, melakukan
ulangan mewawancarai siswa, mengamati aktivitas praktikum dan sebagainya,
semuanya bertujuan untuk memperoleh data. Di dalam kegiatan penelitian,
keberadaan data merupakan komponen yang sangat penting, karena seperti apapun
penelitian yang dirancang oleh peneliti tujuannya adalah untuk memperoleh data.
Jika kita kaji dan kita pilah secara cermat, maka kita akan menemukan beberapa
jenis data. Kerlinger (1993) mengemukakan bahwa pemahaman terhadap jenis data
dalam penelitian akan mengarahkan seorang peneliti untuk
memilih instrumen yang cocok dengan data yang diinginkannya tersebut.
Menurut jenisnya data dalam penelitian dikelompokkan dalam 4 jenis, yaitu data
nominal, data ordinal, data interval, dan data ratio (Kerlinger, 1993). Berikut
mari kita cermati penjelasan dan contoh dari masing-masing jenis data tersebut.
1. Data nominal
Data
nominal adalah suatu data yang hanya terpilah menjadi dua bagian atau
dua pilihan,
atau dua kategori dimana yang satu dengan lainnya terpisah secara tegas
(Kerlinger,
1993; Babbie, 1986; Gay, 1981).
Contoh jenis
data nominal:
• Laki-laki
Perempuan
• Tua Muda
• Kota Desa
• Ya Tidak
• Siang Malam
• Sekolah Tidak
sekolah
• Kaya Miskin
• Lulus Tidak
lulus
dan seterusnya.
2. Data ordinal
Data
ordinal ialah suatu data yang menunjukkan urutan dalam kedudukan
masing-masing
data/data urutan peringkat/jenjang yang tidak menunjukkan kuantitas
absolut
(Kerlinger, 1993).
Contoh data
ordinal:
• Peringkat
kejuaraan.
• Urutan angka
1, 2, 3, 4, dan seterusnya.
• Jenjang
pendidikan.
• Pemeluk
agama/keyakinan.
• Kelompok
etnik/suku.
• Jenis
kendaraan.
• Kelompok
makanan.
• Jenis pekerjaan, dll.
3.
Data interval
Data interval adalah suatu data yang menunjukkan
jarak yang memiliki ciri
nominal
dan ordinal. Di samping itu jarak keangkaan yang sama pada skala interval
mewakili
jarak yang sama pula dalam hal pemilikan sifat yang diukur.
Contoh
data interval:
a
b c d e
1
2 3 4 5
a/1
= Tidak pernah Sangat tidak setuju
b/2
= Hampir tidak pernah Tidak setuju
c/3
= Pernah Ragu-ragu
d/4
= Kadang-kadang Setuju
e/5
= Selalu Sangat setuju
4.
Data ratio
Data ratio/nisbat ialah data pengukuran yang sangat
tinggi, yang mempunyai ciri-ciri
skala nominal, ordinal, dan interval, dan juga memiliki nol mutlak atau nol natural
yang mengandung makna empirik. Jika suatu pengukuran menggunakan nol pada
suatu skala rasio, maka dapat dikatakan bahwa obyek tertentu tidak memiliki sifat
yang sedang diukur. Angka-angka pada skala rasio menunjukan besaran sesungguhnya
pada sifat yang diukur. Untuk ilmu sosial jarang sekali menggunakan skala
rasio.
Contoh
data skala rasio
Skor
8 mempunyai prestasi 2 x lebih baik dari yang mendapatkan skor 4 dalam suatu mata
pelajaran (Kerlinger, 1993). Sampai
di sini Kita telah mengkaji penggolongan data menurut jenisnya.
Coba
Kita kelompokkan data dalam proses pembelajaran Kita sesuai dengan pengelompokan
di atas!
B.
Teknik Pengumpulan Data Melalui Tes
Untuk memperoleh data di dalam kegiatan penelitian,
seorang peneliti dapat
menggunakan
berbagai teknik. Penggunaan dari salah satu atau beberapa teknik pengumpulan
data sangat tergantung pada jenis data yang akan dikumpulkan, tujuan penelitian
dan tentu saja pemahaman peneliti tentang teknik yang akan dipergunakan
tersebut serta kemampuannya untuk melaksanakan penelitian dengan
mempertimbangkan berbagai faktor yang terkait. Sebagai contoh, seorang peneliti
melakukan penelitian tentang motivasi dan hasil belajar siswa pada beberapa
sekolah yang telah ditentukannya. Terkait dengan penelitian tersebut seorang
peneliti terlebih dahulu menjelaskan jenis data yang akan dikumpulkan. Untuk
mengkaji motivasi siswa, misalnya guru dapat menggunakan beberapa teknik yang
dapat dipilih, misalnya observasi, wawancara, atau kuesioner. Untuk menghimpun
data tentang hasil belajar siswa, dapat dipergunakan tes yang dibuat peneliti
sendiri, peneliti bersama guru, atau menggunakan instrumen tes yang stkitar. Di
samping menggunakan tes, juga dapat mengkaji hasil-hasil belajar, hasil-hasil
ulangan siswa yang lebih dikenal dengan teknik studi dokumenter. Dalam
pelaksanaan tugas Kita sehari-hari, pelaksanaan tes sebagai cara memahami
kemampuan siswa tentu sudah sangat tidak asing bagi Kita. Namun
untuk
mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam dan menambah wawasan
Kita
tentang cara-cara pengumpulan data melalui tes, maka bagian ini perlu kita kaji
bersama dengan lebih cermat. Teknik tes atau kadang-kadang juga disebut sistem
testing merupakan usaha untuk memahami atau memperoleh data tentang siswa.
Dalam pkitangan lain juga dikemukakan bahwa tes sebagai suatu prosedur yang
sistematis untuk mengobservasi (mengamati) tingkah laku individu, dan
menggambarkan atau mendeskripsikan tingkah laku itu melalui skala angka atau
sistem kategori. Nurkancana dan Sumartana (1986: 25) mendefinisikan tes sebagai
suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau
serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak atau sekelompok anak sehingga
menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi anak tersebut, yang
dapat dibandingkan dengan nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau dengan
nilai stkitar yang ditetapkan. Jika defenisi ini dianalisis, maka kita
menemukan beberapa hal penting yang dapat kita simpulkan yaitu:
1.
Tes adalah suatu bentuk tugas yang terdiri dari sejumlah pertanyaan atau
perintah-perintah.
2.
Tes diberikan kepada seorang anak atau sekelompok anak untuk dikerjakan.
3.
Bahwa respon atau jawaban anak atau kelompok anak tersebut dinilai.
Penggunaan
teknik tes, khususnya tes prestasi belajar bagi guru di sekolah
bertujuan
untuk:
a.
Menilai kemampuan belajar murid.
b.
Memberikan bimbingan belajar kepada murid.
c.
Mengecek kemajuan belajar.
d.
Memahami kesulitan-kesulitan belajar.
e.
Memperbaiki teknik mengajar.
f.
Menilai efektivitas (keberhasilan) mengajar.
Arikunto
(1988), mengemukakan bahwa tes sebagai instrumen pengumpulan
data
dibedakan menjadi dua, yaitu:
1.
Tes buatan guru, yaitu tes yang disusun oleh guru dengan prosedur tertentu,
akan
tetapi
belum mengalami uji coba berkali-kali sehingga tidak diketahui ciri-ciri
dan
kebaikannya.
2.
Tes stkitar (stkitardized tes), yaitu tes yang biasanya sudah tersedia
di lembaga testing, yang sudah terjamin keampuhannya. Tes ini sudah mengalami
uji coba berkali-kali, direvisi berkali-kali sehingga sudah dapat dikatakan
cukup baik. Di dalam setiap tes yang terstkitar, sudah dicantumkan petunjuk
pelaksanaan,
waktu
yang dibutuhkan, bahan yang tercakup, dan hal-hal lain, misalnya validitas
dan
reabilitas tes. Dalam pembahasan tentang bentuk-bentuk tes, Gall & Borg
(2002: 209) mengemukakan terdapat beberapa bentuk tes performance, yaitu; (a) intelligence
tests atau tes intelegensi, (b) aptitude tests atau tes sikap,
(c) achievement tests atau tes hasil belajar, (d) diagnostic tests atau
tes diagnostik, dan performance assessment atau penilaian
kinerja.
Di
antara bentuk tes yang paling sering dipergunakan guru adalah tes hasil
belajar.
Jika dilihat dari beberapa dimensi atau sudut pkitangan, tes hasil belajar
sebagai
salah satu bentuk yang diarahkan untuk mengetahui hasil atau prestasi
belajar
siswa dibedakan atas beberapa jenis. Berdasarkan jumlah atau pengikut tes, maka
tes hasil belajar dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu tes individual dan tes
kelompok (Nurkancana dan Sumartana, 1986: 25). Tes individual adalah suatu tes
dimana pada saat tes tersebut diberikan kita hanya menghadapi satu orang anak.
Sedangkan tes kelompok, yaitu dimana pada saat tes diberikan, kita menghadapi
sekelompok anak. Tes hasil belajar disamping dapat dikaji dari jumlah atau
pengikut tes sebagaimana dikemukakan di atas, juga dapat ditinjau dari segi
penyusunannya. Dilihat dari segi penyusunannya tes dibedakan atas tiga jenis,
yaitu tes buatan guru, tes buatan orang lain yang tidak distkitarisasi, dan tes
stkitar atau tes yang sudah distkitarisasi.
a.
Tes buatan guru, yaitu tes yang disusun sendiri oleh guru yang akan
mempergunakan
tes tersebut.
b.
Tes buatan orang lain yang tidak distkitarisasi, adalah tes yang dibuat orang
lain yang dianggap cukup baik yang dapat dipergunakan oleh guru. Tes jenis ini
misalnya
tes yang disusun oleh teman-teman sejawat guru yang lebih berpengalaman, atau
tes yang dimuat pada akhir tiap-tiap bab dari buku pelajaran.
c.
Tes stkitar atau tes yang telah distkitarisasi, yaitu tes yang telah cukup
valid
dan
reliabel berdasarkan atas uji coba berkali-kali terhadap sampel yang cukup
luas
dan representatif.
Selain dari sudut pkitang di atas, jenis tes hasil
belajar juga dapat dikaji dari bentuk jawaban atau bentuk respon. Berdasarkan
bentuk jawaban atau bentuk respon ini, tes hasil belajar dapat dibedakan
menjadi dua jenis, yaitu:
a.
Tes tindakan, yaitu suatu tes dimana jawaban atau respon yang diminta dari anak
berbentuk tingkah laku. Jadi anak berbuat sesuai dengan perintah atau
pertanyaan yang diberikan. Misalnya dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan
Kesehatan, untuk mengetahui apakah seorang anak sudah dapat berenang dengan
gaya tertentu, maka cara yang paling baik adalah menyuruh anak tersebut
mempraktekkan
langsung cara berenang yang dikehendaki. Jika anak dapat melakukan sesuai
dengan kriteria yang ditentukan guru, maka berarti anak tersebut telah
menguasai tes yang diberikan dalam bentuk tindakan tersebut.
b.
Tes verbal, yaitu suatu tes, dimana jawaban atau respon yang diberikan oleh anak-anak
berbentuk bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan. Dalam keadaan
ini, anak akan mengucapkan atau menulis jawabannya sesuai dengan pertanyaan
atau perintah yang diberikan.
Selain ditinjau dari bentuk jawaban atau respon yang
diberikan, tes juga dapat dilihat dari bentuk pertanyaan yang diberikan oleh
guru. Bentuk tes ini tentu sudah sangat sering Kita terapkan didalam kegiatan
pembelajaran sehari-hari. Jenis tes ini dibedakan menjadi dua, yaitu tes
obyektif dan tes essay.
1.
Tes obyektif
Tes obyektif adalah bentuk tes yang terdiri dari
item-item yang dapat dijawab dengan
cara memilih salah satu alternatif yang benar dari sejumlah alternatif yang tersedia,
atau dengan mengisi jawaban dengan beberapa perkataan atau simbul tertentu.
Ada beberapa bentuk tes obyektif, yaitu:
a.
Tes benar salah (true-false), adalah tes yang butir-butir soalnya
mengharuskan agar siswa mempertimbangkan suatu pernyataan sebagai pernyataan
yang benar atau
salah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan di dalam penyusunan tes obyektif
bentuk benar-salah ini:
-
Meyakinkan sepenuhnya bahwa butir soal tersebut dapat dipastikan benar atau
salah.
-
Jangan menulis butir soal yang memindahkan satu kalimat secara harfiah dari
\ teks.
-
Jangan menulis butir soal yang memperdayakan.
-
Menghindari pernyataan negatif.
-
Menghindari pernyataan berarti gkita.
-
Menggunakan suatu bentuk yang tepat.
-
Menghindari kata-kata kunci, seperti pada umumnya, semua, dan yang lain.
-
Menghindari jawaban benar yang terpola.
b.
Tes pilihan gkita (multiple choice), adalah suatu item yang terdiri dari
suatu
statemen
yang belum lengkap. Untuk melengkapi statemen tersebut disediakan
beberapa
statemen sambungan. Satu diantaranya merupakan sambungan yang
benar
sedangkan yang lain adalah sambungan yang tidak benar (Nurkancana dan
Sumartana,
1986; Dimyati dan Mudjiono, 1994). Item multiple choice ini dapat
pula
berupa suatu pertanyaan yang telah disediakan beberapa buah jawaban,
dimana
hanya satu dari jawaban-jawaban yang disediakan tersebut merupakan
jawaban
yang benar. Alternatif pilihan yang disediakan disebut “option”, sedangkan.
Jawaban-jawaban atau statemen sambungan yang tidak benar disebut
pengecoh.
Bloom, 1981 (Dimyati dan Mudjiono, 2004: 200) mengingatkan
beberapa
kaidah yang harus diperhatikan didalam penyusunan soal pilihan gkita.
-
Pokok soal (stem) yang merupakan permasalahan harus dirumuskan secara
jelas.
-
Perumusan pokok soal dan alternatif jawaban hendaknya merupakan
pernyataan
yang diperlukan saja.
-
Untuk satu soal, hanya ada satu jawaban yang benar atau yang paling benar.
-
Sedapat mungkin dihindarkan perumusan pernyataan yang bersifat negatif
pada
pokok soal.
-
Alternatif jawaban (option) sebaiknya logis, dan pengecoh harus
berfungsi
(menarik).
-
Diusahakan agar tidak ada petunjuk untuk jawaban yang benar.
-
Diusahakan agar mencegah penggunaan pilhan jawaban yang terakhir
berbunyi
“semua pilihan jawaban di atas benar”, atau “semua pilihan jawaban
di
atas salah”. - Diusahakan agar pilihan jawaban homogen, baik dari segi isi
maupun panjang
pendeknya
pertanyaan.
Bloom,
1981 (Dimyati dan Mudjiono, 2004:200) mengingatkan beberapa kaidah yang harus
di perhatikan didalam penyusunan soal pilihan gkita yaitu:
a.
Pokok
soal (stem) yang merupakan permasalahan harus dirumuskan secara jelas.
b.
Perumusan pokok soal
dan alternative jawaban hendaknya merupakan pernyataan yang diperlukan saja.
c.
Untuk satu soal, hanya
ada satu jawaban yang paling benar
d.
Hindari perumusan
pernyataan yang bersifat negatif pada pokok soal.
e.
Alternatif jawaban
(option) sebaiknya logis, dan pengecoh harus berfungsi (menarik).
f.
Usahakan agar tidak ada
petunjuk untuk jawaban yang benar.
g.
Usahakan agar mencegah
penggunaan pilihan jawaban yang terakhir berbunyi “semua pilihan jawaban di
atas benar”, atau “semua pilihan jawaban di atas salah”.
h.
Usahakan agar pilihan
jawaban homogen, baik dari segi isi maupun panjang pendeknya pertanyaan.
i.
Apabila pilihan jawaban
berbentuk angka, susunlah secara berurutan dari angka yang terkecil diletakkan
diatas sampai angka terbesar yang diletakkan di bawah.
j.
Dalam pokok soal,
usahakan tidak menggunakan ungkapan atau kata-kata yang bersifat titak tentu,
seperti seringkali, kadang-kadang, pada umumnya dan kata-kata sejenis.
k.
Usahakan agar jawaban
butir soal yang satu tidak bergantung dari jawaban butir soal yang lain.
l.
Dalam membuat soal,
usahakan agar jawaban benar (yang menjadi kunci jawaban) letaknya tersebar
antara a, b, c, d, atau ditentukan secara acak, seehingga tidak terjadi pola
jawaban tertentu.
C.
Tes menjodohkan
(maching) adalah suatu bentuk tes yang terdiri dari dua kolom yang parallel,
dimana masing-masing berisi uraian-uraian, keterangan-keterangan atau statemen.
Dengan kata lain merupakan bentuk tes yang butir-butir soalnya terdiri dari
satu daftar premis dan satu daftar jawaban yang sesuai.
(Dimyati
dan Mudjiono, 2004; Nurkancana, 1986: 36) dalam penyusunan soal bentuk
menjodohkan, ada beberapa kaidah yang harus diperhatikan yaitu:
a.
Meyakinkan bahwa
pertanyaan dapat dijawab engan kata atau penggalan kalimat yang mudah atau
khusus, dan hanya ada satu jawaban yang benar.
b. Menggunakan
bentuk yang cocok.
c. Jangan
memutus-mutus butir soal melengkapi.
d. Menghindari
pemberian petunjuk kearah jawaban yang benar.
e. Menunjukkan
bagaimana seharusnya jawaban yang benar.
Tes
obyektif sebagai salah satu teknik pengumpulan data memiliki kelemahan dan
kelebihan. Kelebihannya adalah:
a.
Dapat dijawab
dengan cepat sehingga memungkinkan siswa menjawab sejumlah besar prtanyaan
dalam satu periode tes.
b.
Reliabilitas
skor yang diberikan yang diberikan terhadap pekerjaan siswa dapat lebih terjamin.
c. Jawaban-jawaban
tes obyektif dapat dikoreksi dengan mudah dan cepat.
Kelemahan
tes obyektif yaitu sebagai berikut:
a.
Kemungkinan
siswa untuk menerka jawaban akan lebih besar
b.
Karena
jumlah item pada tes obyektif pada umumnya lebih banyak, maka diperlukan biaya
yang lebih besar.
2.
Tes Essay
Tes essay adalah
suatu bentuk tes yang terdiri dari suatu pertanyaan yang menghendaki jawaban
berupa uraian-uraian yang relatif panjang. Bentuk-bentuk petanyaan yang mengharuskan siswa untuk
menjelaskan, membandingkan, menginterpretasikan atau mencari perbedaan. Semua
bentuk pertanyaan mengharuskan siswa untuk mampu menunjukkan pengertian atau
pemahaman mereka terhadap materi yang dipelajari (Nurkancana dan Sumartana,
1986: 42).
Tes
bentuk essay juga memiliki kebaikan dan kelemahan. Kebaikannya
antara lain:
·
Tes essay sangat tepat
dipergunakan untuk menilai atau mengukur hasil dari suatu proses belajar yang
kompleks, yang sukar diukur dengan menggunakan tes obyektif.
·
Tes essay memberi
peluang yang besar kepada siswa untuk menyusun jawaban sesuai dengan jalan
pikirannya sendiri. Keadaan ini sangat penting untuk melatih siswa agar
terbiasa mengemukakan jalan pikirannya secara terarah dan sistematis.
Sedangkan
beberapa kelemahan tes essay adalah:
·
Pemberian skor terhadap
jawaban tes essay kurang reliabel terutama disebabkan karena tidak hanya satu
jawaban yang biasa diterima. Di samping itu juga disebabkan tingkat kebenaran
jawaban tersebut sangat bervariasi.
·
Tes essay menghendaki
jawaban-jawaban yang relatif panjang. Karena itu dibutuhkan waktu yang lebih
lama pula untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan, sehingga dalam satu
periode tes hanya dapat diberikan beberapa item tes saja.
·
Materi yang diberikan
di dalam tes tidak dapat mencakup secara luas materi pelajaran yang telah
disampaikan, sehingga sangat dimungkinkan hasil yang dicapai bersifat
kebetulan, karena pertanyaan yang diberikan secara kebetulan sesuai dengan
bagian materi yang dipelajarinya.
·
Mengoreksi tes essay
memerlukan waktu yang cukup lama, serta menghabiskan energi yang cukup banyak
terlebih lagi bilamana peserta tes jumlahnya cukup besar, karena setiap jawaban
harus dibaca satu persatu secara teliti.
Untuk
mengurangi beberapa kelemahan pada tes essay di atas, perlu diperhatikan
beberapa saran berikut:
a.
Materi
pelajaran yang akan diukur melalui tes essay perlu diperiksa terlebih dahulu.
Bagian yang akan diukur melalui tes essay hendaknya hanya bagian-bagian yang
kurang cocok jika diukur dengan tes obyekif.
b.
Item-item
tes essay hendaknya dibuat dengan jelas sehingga tidak menimbulkan
keragu-raguan siswa.
Untuk
meningkatkan obyektivitas hasil tes ada beberapa hal yang perlu dilakukan:
a)
Memberi
kesempatan berlatih kepada tester (orang yang melaksanakan tes).
b)
Menggunakan
tester lebih dari satu orang, kemudian hasilnya dibandingkan.
c)
Melengkapi
instrumen tes dengan manual atau pedoman pelaksanaan selengkap dan sejelas
mungkin.
d)
Menciptakan
situasi tes sedemikian rupa sehingga membantu tester (orang yang mengerjakan
tes) tidak mudah terganggu oleh lingkungan.
e)
Memilih
situasi tes sebaik-baiknya, misalnya bukan malam Minggu, bukan dalam keadaan
udara yang sangat panas, bukan sehabis liburan panjang, menjelang ujian, dan
sebagainya.
f)
Perlu
menciptakan kerjasama yang baik dan rasa saling percaya antara tester yang satu
dengan tester lainnya.
g)
Menentukan
waktu untuk mengerjakan tes secara tepat, baik ketepatan pelaksanaan maupun
lamanya.
h)
Memperoleh
izin dari atasan jika tes tersebut dilaksanakan di sekolah atau di
kantor-kantor.
Subunit 2
Penggunaan
Teknik-teknik Non Tes untuk Pengumpulan Data PTK
A. Pengamatan
atau Observasi
Pelaksanaan
tindakan di dalam PTK secara bersamaan juga dilakukan observasi dan
interpretasi, sehingga dapat dikatakan pelaksanaan tindakan dan observasi/interpretasi
berlangsung secara simultan. Artinya,
data yang diamati tersebut langsung diinterpretasikan, tidak sekedar direkam.
Misalnya, jika seorang siswa berhasil mengerjakan sesuatu dengan baik, kemudian
guru memberi pujian kepada siswa tersebut, yang direkam bukan hanya jenis
pujian yang diberikan tetapi juga dampaknya bagi siswa yang mendapat pujian.
Dampak ini dapat diinterpretasikan dari sikap dan partisipasi siswa dalam
pembelajaran setelah mendapat pujian. Dengan cara ini, guru sebagai aktor utama
dapat melakukan penyesuaian-penyesuaian, sehingga komitmennya sebagai pengajar
tidak terganggu oleh metode penelitian yang sedang diterapkan. jika ternyata
pujian yang diberikan membuat siswa menjadi bahan ejekan, guru akan mengubah
cara memberi penguatan. Namun perlu dicatat, tidak semua data memerlukan interpretasi. Ada hasil
pengamatan yang hanya merupakan rekaman faktual tanpa memerlukan interpretasi,
sehingga pengamat cukup hanya merekam apa yang dilihat tanpa perlu memberi
makna kepada hasil rekaman. sebagaimana yang dirujuk oleh Joni (1998),
pengamatan ala Flanders yang hanya merekam data dalam tiga kategori yaitu:
pembicaraan guru, pembicaraan siswa, dan sepi (tanpa pembicaraan), tidak
memerlukan interpretasi pada saat rekaman dilakukan. Inilah
yang dinamakan “low-inference observation”, sedangkan pengamatan yang
mempersyaratkan interpretasi atau penafsiran ketika merekam data disebut
sebagai “high-inference observation”.
Pelaksanaan
observasi sebagai alat pengumpulan data memerlukan persiapan. Salah satu
komponen yang perlu diperhatikan didalam persiapan pelaksanaan observasi adalah
cara perekaman data. Artinya, apa yang harus direkam dan bagaimana merekamnya
melalui observasi tersebut harus ditentukan secara jelas. Misalnya pada PTK yang
dilaksanakan guru, data yang dikumpulkan adalah berkenaan dengan partisipasi
siswa di dalam kegiatan diskusi
kelompok, maka terlebih dahulu guru menentukan cara merekam data, apakah akan
menggunakan format observasi atau menggunakan catatan lapangan. idealnya
observasi tersebut dilakukan oleh guru sendiri. Namun, jika observasi atau
perekaman data tersebut terlalu menyita waktu guru dan mengakibatkan
konsentrasi guru dalam mengajar terganggu, maka guru dapat menggunakan bantuan
alat perekam atau meminta teman sejawat untuk membantu mengumpulkan data
melalui observasi.
1.
Prinsip dan Jenis
Observasi
Secara
sederhana, observasi dapat diartikan sebagai prosedur sistematis dan baku untuk
memperoleh data (Kerlinger, 1993). Dalam pembahasan Cartwright and Cartwright
(1998: 3), observasi merupakan proses pengamatan secara sistematis dengan
melakukan perekaman terhadap perilaku tertentu untuk tujuan pembuatan
keputusan-keputusan pengajaran. Terkait
dengan proses pembelajaran dan pelaksanaan observasi, ada beberapa hal yang
perlu dilakukan guru:
a.
Guru
harus memutuskan apa yang akan diajarkan serta apa yang harus siswa lakukan
didalam pencapaian tujuan pembelajaran.
b.
Guru
harus memutuskan bagaimana konsekuensi tujuan pembelajaran dan prosedur pembelajaran.
c.
Guru
harus memutuskan bagaimana prosedur atau metode melaksanakan pembelajaran.
d.
Guru
perlu memutuskan bahan yang dipergunakan dan bagaimana menyajikannya kepada
siswa.
e.
Guru
harus menentukan bagaimana menata atau mengontrol situasi pembelajaran di
kelas.
f.
Guru
harus memutuskan cara mengorganisasikan waktu yang tersedia di dalam kegiatan
pembelajaran.
g.
Guru
harus memutuskan cara mengelompokkan siswa di dalam proses pembelajaran.
h.
Guru
harus memutuskan cara menciptakan lingkungan kelas dengan baik.
i.
Guru harus menentukan
kapan dan bilamana diperlukan resourcher
person
1.
Prinsip dan Jenis Observasi
Secara sederhana, observasi dapat
diartikan sebagai prosedur sistematis dan baku untuk memperoleh data
(Kerlinger, 1993). Dalam pembahasan Cartwright and Cartwright (1998: 3),
observasi merupakan proses pengamatan secara sistematis dengan melakukan
perekaman terhadap perilaku tertentu untuk tujuan pembuatan keputusan-keputusan
pengajaran. Terkait dengan proses pembelajaran dan pelaksanaan observasi, ada
beberapa hal yang perlu dilakukan guru:
a.
Guru harus
memutuskan apa yang akan diajarkan serta apa yang harus siswa lakukan didalam
pencapaian tujuan pembelajaran.
b.
Guru
harus memutuskan bagaimana konsekuensi tujuan pembelajaran dan prosedur
pembelajaran.
c.
Guru
harus memutuskan bagaimana prosedur atau metode melaksanakan pembelajaran.
d.
Guru
perlu memutuskan bahan yang dipergunakan dan bagaimana menyajikannya kepada
siswa.
e.
Guru
harus menentukan bagaimana menata atau mengontrol situasi pembelajaran di
kelas.
f.
Guru
harus memutuskan cara mengorganisasikan waktu yang tersedia di dalam kegiatan
pembelajaran.
g.
Guru
harus memutuskan cara mengelompokkan siswa di dalam proses pembelajaran.
h.
Guru
harus memutuskan cara menciptakan lingkungan kelas dengan baik.
i.
Guru harus menentukan kapan
dan bilamana diperlukan resourcher person untuk mendukung kelancaran
kegiatan pembelajaran.
Observasi
yang baik mempunyai prinsip dasar atau karakteristik yang harus diperhatikan,
baik oleh pengamat maupun yang diamati. Hopkins (1993) menyebutkan ada lima
prinsip dasar atau karakteristik kunci observasi, yang secara singkat dapat
dideskripsikan seperti berikut ini.
1) Perencanaan
Bersama
Meskipun di dalam PTK
sagat disarankan agar guru dapat melakukan sendiri pengumpulan data, namun
tidak tertutup kemungkinan guru tersebut membutuhkan bantuan orang lain
bilamana hal itu memang benar-benar diperlukan. Perencanaan bersama adalah
upaya membangun kesepakatan bersama antara guru yang melaksanakan tindakan
dengan pengamat yang membantu proses pengamatan selama kegiatan pembelajaran
dilakukan. Perencanaan bersama ini dilakukan terutama jika guru yang
melaksanakan PTK membutuhkan bantuan orang lain, misalnya rekan-rekan sejawat
yang akan membantu mengamati proses pembelajaran yang dilakukannya. Perencanaan
bersama ini bertujuan untuk membangun rasa saling percaya dan menyepakati
beberapa hal seperti fokus yang akan diamati, pelajaran yang akan berlangsung,
serta aturan lain seperti berapa lama pengamatan akan berlangsung, bagaimana
sikap pengamat kepada siswa, dan dimana pengamat akan duduk.
2) Fokus
Fokus pengamatan
merupakan aspek-aspek pokok yang menjadi sasaran utama pengamatan. Fokus
pengamatan mungkin sangat luas atau umum, tetapi dapat pula sangat khusus atau
spesifik. Fokus yang luas membutuhkan pertimbangan dan penafsiran yang lebih
mendalam serta subyektivitas akan sulit dihindari. Di dalam menentukan aspek
yang diamati, hal yang harus diingat peneliti adalah, semakin banyak objek yang
diamati, akan semakin sulit, dan hasilnya akan semakin tidak teliti (Arikunto,
1998: 135). Karenanya diupayakan agar fokus tidak terlalu luas, karena fokus
yang terlalu luas disamping sulit diamati, juga kurang bermanfaat bagi guru
yang diamati. Sebaliknya, fokus yang sempit atau spesifik akan menghasilkan
data yang sangat bermanfaat sebagai data dan informasi bagi guru yang
melaksanakan PTK.
3) Membangun
Kriteria
Kriteria observasi
adalah patokan yang ditetapkan untuk melihat tingkat keberhasilan observasi.
Observasi akan sangat membantu guru, jika kriteria keberhasilan atau sasaran yang
ingin dicapai sudah disepakati sebelumnya. Dengan kriteria seperti ini,
pengamat dapat merekam data yang relevan secara cermat sesuai dengan
aspek-aspek yang dikaji. Karena itu kesepakatan bersama tentang kriteria yang
menjadi patokan ini merupakan bagian penting untuk mendukung terkumpulnya data
yang diinginkan bersama antara pengamat dan guru yang melaksanakan PTK.
4) Keterampilan
Observasi
Seorang pengamat yang baik memiliki tiga keterampilan, yaitu:
(1) dapat menahan diri untuk tidak terlalu cepat memutuskan dalam
menginterpretasikan suatu peristiwa; (2) dapat menciptakan suasana yang memberi
dukungan dan menghindari terjadinya suasana yang dapat mengganggu iklim kelas,
dan (3) menguasai berbagai teknik untuk menemukan peristiwa atau interaksi yang
tepat untuk direkam, serta alat / instrumen perekam yang efektif untuk episode
tertentu. Cartwright dan Cartwright (1998: 46) mengemukakan beberapa pertanyaan
yang mengarahkan pada jenis keterampilan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan
observasi yang dilakukan, yaitu:
a) Siapa
yang merancang observasi.
b)
Siapa
atau apa yang akan diamati. Pertanyaan ini berkenaan dengan pemahaman terhadap
sasaran observasi, misalnya perilaku siswa, perilaku guru dalam mengajar,
cara-cara menggunakan alat bantu pembelajaran, dan seterusnya.
c)
Dimana observasi dilakukan. Hal ini berkaitan
dengan keharusan untuk memahami kondisi atau lingkungan tempat pelaksanaan
kegiatan yang ingin diobservasi.
d)
Kapan
waktu pelaksanaan observasi. Hal ini mengingatkan akan pentingnya kesesuaian
waktu pelaksanaan dengan waktu pengamatan serta pemahaman tentang tahap-tahap
kegiatan yang akan diamati.
e)
Bagaimana
data dari kegiatan observasi itu akan direkam. Pertanyaan ini berkenaan dengan
keharusan pengamat untuk terampil memilih dan menggunakan cara pengumpulan atau
perekaman data.
5)
Balikan (Feedback)
Observasi yang
dilakukan langsung oleh guru sendiri yang melaksanakan PTK, mungkin balikan ini
dapat segera dilakukan guru setelah melaksanakan tindakan atau proses
pembelajaran. Sedangkan untuk kegiatan observasi yang dilakukan oleh pengamat,
bukan langsung oleh guru sendiri yang melaksanakan PTK, balikan hasil observasi
dapat dimanfaatkan jika ada balikan yang tepat yang disajikan dengan
memperhatikan secara cermat setiap langkah yang dilakukan. Perlu juga dipahami,
bahwa observasi dilihat dari pelaksanaannya dapat dipahami dalam beberapa
bentuk. Wardani (2004) mengemukakan beberapa bentuk observasi sebagai berikut.
v
Observasi Terbuka
Ciri yang dapat dilihat
dari bentuk observasi terbuka adalah dimana pengamat tidak menggunakan lembar
observasi, melainkan hanya menggunakan teknik - teknik tertentu untuk merekam
fenomena-fenomena yang diselidiki. Jika ada seseorang yang melakukan pengamatan
terhadap aktivitas Kita ketika mengajar di kelas, Kita dapat perhatikan. apakah
pengamat tersebut menggunakan lembar observasi atau tidak dalam proses
pencatatan yang dilakukannya. Jika tidak, maka pengamatan yang dilakukan
terhadap Kita dapat dikategorikan sebagai observasi terbuka. Pengamat mengamati
aktivitas dan kelas Kita kemudian membuat catatan pada kertas kosong tentang
jalan pelajaran yang berlangsung.
v Observasi
Terfokus
Berbeda halnya dengan
observasi terbuka, observasi terfokus secara khusus ditujukan untuk mengamati
aspek-aspek tertentu dari pembelajaran. Misalnya, mengamati kemampuan siswa
bekerjasama dalam kegiatan diskusi, kemampuan mengajukan pertanyaan-pertanyaan,
kemampuan melakukan gerakan-gerakan tertentu dalam latihan tari. Fokus yang
telah ditetapkan dalam kegiatan observasi menjadi petunjuk atau memberikan arah
untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan.
v Observasi
Terstruktur
Berbeda dengan
observasi terbuka hanya menggunakan kertas kosong sebagai alat perekam data,
observasi terstruktur menggunakan instrumen observasi yang terstruktur dan siap
pakai, sehingga pengamat hanya tinggal membubuhkan tkita (v) pada tempat yang
disediakan. Misalnya, yang direkam adalah frekuensi penguatan yang diberikan,
atau jumlah pertanyaan yang diajukan, atau jumlah siswa yang menjawab secara
sukarela, atau jumlah siswa yang mengajukan pertanyaan. Pengamat hanya tinggal
memberi tkita (v) setiap kali peristiwa itu muncul.
v Observasi
Sistematik
Observasi sistematik
lebih rinci dari observasi terstruktur dalam kategori data yang diamati.
Misalnya dalam pemberian penguatan, data dikategorikan menjadi penguatan verbal
dan nonverbal. Contoh lain yang sudah dikenal amat luas adalah kategori
pengamatan dari Flanders yang membagi data pengamatan menjadi tiga kategori,
yaitu pembicaraan guru, pembicaraan siswa, dan sepi atau senyap.
Jenis
observasi juga dapat dilihat dari intensitas peran observer didalam pelaksanaan
observasi. McMillan & Schumecher (2000: 41), mengemukakan ketika guru
melakukan pengumpulan data dan mendokumentasikan temuan-temuan penelitiannya
secara sungguh-sungguh, kemudian ia menjelaskan dan menyimpulkan maka ia telah
melakukan observasi partisipan.
Masing-masing
jenis observasi tersebut memiliki kelemahan dan kelebihan. Kita dapat
mengkajinya secara cermat. Kerlinger (1986) mengingatkan bahwa masalah pokok
dalam pengamatan perilaku adalah si pengamat sendiri karena ia merupakan bagian
dari instrumen pengukur. Dalam pengamatan perilaku, pengamat merupakan kekuatan
penentu akan tetapi juga merupakan kelemahan penentu. Karena itu pengamat harus
dapat mencerna informasi yang didapatkan dari observasi kemudian membuat
inferensi mengenai konstruk-konstruk. Coba Kita diskusikan kembali
bentuk-bentuk observasi di atas, kemudian kaji dari sudut kemampuan Kita
dan kondisi sekolah tempat Kita mengajar untuk
menemukan jenis observasi mana saja yang mungkin Kita pergunakan.
2.
Tujuan/Sasaran Observasi
Milss
(2000), menjelaskan bahwa observasi bertujuan mengamati aktivitas siswa,
aspek-aspek fisik dari suatu situasi tertentu sebagai sumber informasi yang
dapat memperkaya informasi-informasi yang lain. Observasi juga bertujuan untuk
mengumpulkan data yang diperlukan untuk menjawab masalah tertentu. Dalam
penelitian formal, observasi bertujuan mengumpulkan data yang valid dan
variabel (sahih dan hkital). Data ini kemudian akan diolah untuk menjawab
berbagai pertanyaan penelitian atau menguji hipotesis. Dalam PTK, observasi
terutama ditujukan untuk memantau proses dan dampak perbaikan yang
direncanakan. Oleh karena itu, yang menjadi sasaran observasi dalam PTK adalah
proses dan hasil atau dampak pembelajaran yang direncanakan sebagai tindakan
perbaikan. Proses dan dampak yang teramati diinterpretasikan, selanjutnya
digunakan untuk menata kembali langkah-langkah perbaikan.
3. Prosedur Observasi
Pada dasarnya, prosedur atau
langkah-langkah observasi terdiri dari tiga tahap, yaitu: pertemuan
pendahuluan, observasi, dan diskusi balikan. Ketiga tahap ini sering disebut
sebagai siklus pengamatan, yang populer dipakai dalam supervisi klinis, baik
dalam pembimbing calon guru maupun dalam memberikan bantuan profesional bagi
guru yang sudah bertugas. Siklus ini dapat digambarkan sebagai berikut. Mari
kita kaji langkah-langkah tersebut satu persatu.
v Pertemuan
Pendahuluan
Pertemuan pendahuluan
yang sering disebut sebagai pertemuan perencanaan dilakukan sebelum observasi
berlangsung. Tujuan pertemuan ini adalah untuk menyepakati berbagai hal yang
berkaitan dengan pelajaran yang akan diamati dan observasi yang akan dilakukan,
sebagaimana yang telah Kita kaji pada prinsip pertama observasi.
Langkah-langkah dan konteks pembelajaran, fokus observasi, kriteria observasi,
lama pengamatan, cara pengamatan, dan sebagainya dapat disepakati pada
pertemuan pendahuluan ini. Fokus observasi misalnya siswa yang memberi respon
secara sukarela, siswa yang mendapat penguatan, atau jenis pertanyaan yang
diajukan oleh guru, sedangkan contoh kriteria observasi adalah: peningkatan
sumber belajar yang dipakai siswa, peningkatan jumlah pertanyaan yang diajukan
siswa, peningkatan rasa puas pada diri siswa, dan peningkatan jumlah siswa yang
menjawab dengan benar.
v Pelaksanaan
Observasi
Sesuai dengan
kesepakatan pada pertemuan pendahuluan, observasi dilakukan terhadap proses dan
hasil tindakan perbaikan, yang tentu saja terfokus pada prilaku mengajar guru,
perilaku belajar siswa, dan interaksi antara guru dan siswa. Pengamat
merekam/menginterpretasikan data sesuai dengan kesepakatan dan berusaha
menciptakan suasana yang mendukung berlangsungnya proses perbaikan.
v Diskusi
Balikan
Sesuai dengan prinsip
pemberian balikan, pertemuan balikan dilakukan segera setelah tindakan
perbaikan yang diamati berakhir. Makin cepat pertemuan ini dilakukan makin
baik, dan sebaiknya diusahakan agar pertemuan ini tidak ditunda lebih dari 24
jam. Dalam pertemuan ini, guru dan pengamat berbagi informasi yang dikumpulkan
selama pengamatan, mendiskusikan/ menginterpretasikan informasi tersebut, serta
mengambil tindakan lebih lanjut jika diperlukan.
Untuk
mendapatkan gambaran yang jelas tentang siklus observasi tersebut, cobalah Kita
simak contoh berikut ini. Kita akan dapat membayangkan situasi observasi dan
hubungan antara guru dan pengamat. Agar ketiga tahap observasi ini dapat
berlangsung secara efektif, Kita perlu memperhatikan beberapa prinsip berikut,
yang berkali-kali ditekankan oleh Hopkins (1993), Pertama, hubungan
antara guru dan pengamat haruslah didasari saling percaya, sehingga pengamatan
dapat berlangsung dalam iklim yang menyenangkan dan saling membantu. Kedua,
fokus kegiatan pengamatan haruslah pada usaha perbaikan pembelajaran dan
mendorong keberhasilan strategi yang diterapkan, bukan pada kegagalan atau
kritik terhadap kepribadian/perilaku guru yang dianggap tidak sesuai. Ketiga
proses didasarkan pada pengumpulan dan pemanfaatan data observasi, bukan
pada keputusan atau pertimbangan yang tidak terkait dengan sasaran observasi. Keempat,
guru hendaknya didorong untuk menarik kesimpulan tentang pembelajaran yang
dikelolanya dari data yang dikumpulkan dan jika perlu membuat hipotesis yang
dapat diuji pada pembelajaran yang akan datang. Kelima, setiap tahap
dari tiga tahap ini merupakan proses yang berlanjut dan yang satu selalu
bertumpu pada yang lain. Terakhir, guru dan pengamat bersamasama terlibat dalam
proses pertumbuhan profesional yang saling menguntungkan. Kemampuan mengajar
dan keterampilan mengobservasi akan meningkat dengan melaksanakan ketiga tahap
observasi secara benar.
B.
Wawancara
Untuk
memperoleh data yang diperlukan atau data pendukung PTK, selain menggunakan
observasi guru juga dapat melakukan wawancara, baik kepada siswa, rekan-rekan
guru, staf sekolah lain atau mungkin kepada orang tua siswa. Secara sederhana,
wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu (Moleong, 1991). Wawancara mungkin merupakan alat yang paling
purba dan paling sering digunakan manusia untuk memperoleh informasi
(Kerlinger, 1993).
Wawancara
memiliki sifat-sifat penting yang tidak dipunyai oleh tes-tes pada skala
obyektif dan pengamatan behavioral.
Apabila digunakan dengan menggunakan rencana yang tersusun baik, maka wawancara
dapat menghasilkan banyak informasi yang bersifat fleksibel dan dapat
diadaptasi untuk situasi-situasi individual, serta seringkali dipergunakan
bilamana tidak ada metode lain yang dimungkinkan atau memadai. Wawancara dapat dipergunakan untuk tiga
maksud utama. Pertama, wawancara dapat
dipergunakan sebagai alat eksplorasi untuk identifikasi varibel dan relasi,
mengajukan hipotesis, dan memandu tahap-tahap lain di dalam penelitian. Kedua, wawancara dapat menjadi instrumen utama penelitian. Dalam hal ini
pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk mengukur aspek-aspek yang diteliti
dimasukkan ke dalam panduan wawancara dalam keadaan ini, pertanyaan-pertanyaan
harus dipkitang sebagai butir-butir (item
soal) dalam suatu instrumen penelitian, bukan sekedar sebagai sarana
menghimpun informasi belaka. Ketiga, wawancara itu dapat digunakan sebagai
penopang atau pelengkap metode lain. Dalam keadaan ini wawancara dapat
berfungsi untuk menggali lebih mendalam motivasi responden serta alasan-alasan
responden memberikan jawaban dengan cara-cara tertentu.
Di
dalam penelitian kualitatif, wawancara
(interview) oleh banyak kepustakaan dikemukakan di dalam berbagai terminologi,
misalnya disebut intensive interviewing, indepth interviewing, ataupun instructured interviewing, yang berarti suatu percakapan yang terarah
dengan tujuan mengumpulkan atau memperkaya informasi atau bahan-bahan (data)
yang mendetil (kaya atau padat), yang hasil akhirnya untuk digunakan untuk
analisis kualitatif (Mantja, 1993; McMillan & Schumacher, 2001). Perbedaan
dengan wawancara terstruktur yang bertujuan untuk memperoleh pilihan di antara
berbagai alternatif jawaban terhadap pertanyaan yangditampilkan dari sebuah topik
atau situasi, adalah bahwa wawancara mendalam mendetil atau intensif berupaya
menemukan pengalaman-pengalaman informan atau responden dari topik tertentu
atau situasi spesifik yang dikaji. Dalam pkitangan Lofland and Lofland (1983),
bahwa bagian terbesar dari data observasi peran serta pada dasarnya diperoleh
melalui wawancara informal dan yang disempurnakan melalui observasi. Karena itu
pengamatan peran serta dan wawancara mendalam merupakan teknik sentral dalam
penelitian kualitatif. Oleh karena itu keduanya harus dipkitang dari penekanan
penggunaannya dengan memperhatikan saling keterkaitannya.
1.
Bentuk-bentuk Wawancara
Ada
beberapa bentuk wawancara yang sering dipergunakan di dalam pengumpulan data
penelitian. Patton (1987) mengemukakan beberapa bentukwawancara, yaitu; (a)
wawancara pembicaraan formal, (b) pendekatan dengan menggunakan petunjuk umum
wawancara, dan (c) wawancara baku terbuka.
a.
Wawancara pembicaraan informal
Ciri
khusus dari wawancara jenis ini adalah dimana pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan bergantung pada pewawancara itu sendiri, atau tergantung dari
spontanitasnya didalam mengajukan pertanyaan. Wawancara ini dilakukan secara
alami, sehingga hubungan antara pewawancara dan yang diwawancarai terjadi
didalam suasana yang wajar atau tidak dirancang atau dipersiapkan secara
khsusus. Dalam proses wawancara, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan
jawaban yang disampaikan sebagaimana layaknya pembicaraan biasa yang dilakukan
dalam pembicaraan sehari-hari. Bahkan mungkin ketika wawancara dilakukan orang
yang diwawancarai tidak mengetahui atau tidak menyadari bahwa dirinya sedang
diwawancarai. Meskipun situasi berlangsung secara wajar dan alami, namun
pewawancara tetap melakukan aktivitas pokok sebagai pewawacara yaitu melakukan
pencatatan atau perekaman data. Karena itu diperlukan keterampilan yang memadai
dan spesifik baik di dalam mengajukan item-item pertanyaan maupun didalam
menciptakan situasi yang wajar dan alami tersebut.
b.
Pendekatan dengan menggunakan petunjuk umum wawancara
Jika
wawancara pembicaraan informal tidak memerlukan panduan khusus dan spesifik
tentang aspek-aspek yang ingin diwawancarai, berbeda dengan teknik pewawancara
yang kedua ini justeru mempersyaratkan agar pewawancara membuat kerangka dan
garis besar pokok-pokok yang ditanyakan dalam proses wawancara. Penyusunan
pokok-pokok wawancara harus dipersiapkan terlebih dahulu oleh pewawancara
sebelum wawancara dilakukan. Petunjuk umum wawancara tidak harus selalu dibuat
secara rinci, akan tetapi cukup memuat garis-garis besar aspek yang ingin
ditanyakan. Petunjuk yang didasarkan pada anggapan bahwa ada jawaban yang
secara umum akan sama diberikan oleh para responden, tetapi yang jelas tidak
ada perangkat pertanyaan baku yang disiapkan terlebih dahulu. Pelaksanaan wawancara
dan pengurutan pertanyaan disesuaikan dengan keadaan responden. Karena itu
urutan-urutan pertanyaan tidak bersifat kaku, termasuk bagian-bagian mana yang
terlebih dahulu ditanyakan atau diletakkan pada akhir.
c.
Wawancara baku terbuka
Wawancara
baku terbuka adalah wawancara yang menggunakan seperangkat pertanyaan baku
(Moleong, 1991: 136). Pada jenis
wawancara ini, urutan pertanyaan, kata-kata yang dipergunakan didalam daftar
pertanyaan, urutan penyajian disusun sama untuk semua responden yang diwawancarai. Tidak seperti
bentuk pertama, kedua dan ketiga sebelumnya, pada bentuk ini, pewawancara tidak
terlalu memiliki keluwesan mengadakan pertanyaan-pertanyaan pendalaman. Maksud
dari adanya pembatasan-pembatasan di dalam wawancara ini adalah untuk mengurangi
terjadinya “kemencengan” (biasa). Jenis
wawancara
ini tepat dilakukan apabila pewawancara terdiri dari sejumlah orang dan yang
diwawancarai cukup banyak jumlahnya, sehingga hasil-hasil atau data yang
diperoleh tidak terlalu banyak perbedaan.
Khusus
mengenai pedoman wawancara (Arikunto, 1998: 231) memaparkan dua macam pedoman
wawancara.
a. Pedoman wawancara tidak terstruktur, yaitu
pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan. Dalam
keadaan ini sangat diperlukan kreativitas atau apresiasi pewawancara, bahkan
hasil wawancara dengan jenis pedoman wawancara lebih banyak tergantung pada
pewawancara. Itulah sebabnya Kerlinger (1993), mengingatkan bahwa satu di
antara kesulitan dalam wawancara adalah pewawancaranya, karena dia merupakan
bagian dari instrumen pengukur. Wawancara tak terstruktur tepat dilakukan pada
keadaan-keadan berikut:
-
Bila
pewawancara berhubungan dengan orang-orang penting.
-
Jika
pewawancara ingin menanyakan sesuatu secara lebih mendalam lagi kepada seorang
subyek tertentu.
-
Apabila pewawancara
menyelenggarakan kegiatan yang bersifat “penemuan” (discovery).
-
Jika ia tertarik untuk
mempersoalkan bagian-bagian tertentu yang tidak umum.
-
Jika
ia tertarik untuk mengadakan hubungan langsung dengan responden.
-
Apabila
ia tertarik untuk mengungkapkan motivasi, maksud, atau penjelasan dari
responden.
-
Apabila ia mau mencoba
mengungkapkan pengertian suatu peristiwa, situasi, atau keadaan tertentu.
b. Pedoman wawancara terstruktur, yaitu pedoman
wawancara yang disusun
secara
rinci sehingga peluang untuk mengadakan variasi atau improvisasi dalam
pelaksanaan wawancara menjadi sangat terbatas. Panduan wawancara yang paling
banyak dipergunakan menurut Arikunto (1998) adalah panduan wawancara “semi
structured”. Dalam hal ini mula-mula interviewer menanyakan serentetan
pertanyaan yang sudah terstruktur, kemudian satu persatu diperdalam untuk
menggali keterangan-keterangan lebih lanjut.
Ketika
Kita melaksanakan wawacara, Kita boleh mengembangkan berbagai bentuk pertanyaan
yang dapat mengungkapkan informasi atau data yang Kita butuhkan. Ada beberapa
jenis pertanyaan dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan
pertanyaan yang lazim dipergunakan dalam wawancara.
a. Pertanyaan deskriptif (descriptive question),
yaitu bentuk pertanyaan di mana pewawacara meminta responden untuk
mendeskripsikan sesuatu. Misalnya, “Dapatkah Kita menceriterakan pertemuan yang
baru Kita ikuti!”
b. Pertanyaan structural (structural question),
adalah pertanyaan yang diarahkan untuk membantu peneliti bagaimana informan
mengorganisasikan pengetahuannya. Misalnya: “Cara apa saja yang Kita gunakan
untuk menyampaikan materi pelajaran?”. Atau, “Dapatkah Kita menjelaskan
langkah-langkah yang ditempuh di dalam penerapan metode diskusi kelompok kecil?”
c. Pertanyaan pembeda atau mempertentangkan
(contras question), adalah pertanyaan yang bertujuan untuk mengetahui makna
sesuatu yang dikemukakan oleh informan terhadap berbagai terminologi di dalam
bahasa penutur. Pertanyaan jenis ini menghendaki informan membedakan obyek dan
peristiwa menurut pengalaman mereka, sehingga peneliti memperoleh wawasan
dimensi makna yang digunakan informan untuk membedakannya. Pertanyaan ini
misalnya: “Apakah perbedaan belajar anak cacat, anak normal dan anak luar biasa?”
Contoh lain: “Apa perbedaan guru yang melaksanakan PTK dengan guru yang tidak
melaksanakan PTK dilihat dari persiapan mengajar yang disusunnya?”
d. Pertanyaan bergiliran (asymetrical turn
talking), di mana informan dan pewawacara bergiliran didalam berbicara. Dalam
bentuk ini pertama pewawancara menguraikan semua pertanyaannya terlebih dahulu,
kemudian informan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut atau mengungkapkan
sebagian besar pengalaman-pengalamannya.
e. Perluasan daripada penyingkatan (expansion
rather than abbreviation), di mana peneliti mendorong informan untuk memperluas
(memperjelas) apa yang dikemukakannya untuk menghindari kurang rincinya topik
yang diperoleh. Dalam proses wawancara ini peneliti sering mengingatkan
informan agar tidak dilakukan secara singkat dan terburu-buru untuk mempercepat
waktu penelitian.
f.
Mengajukan pertanyaan bersahabat (asking friendly question). Selama proses
wawancara antara peneliti dan informan berlangsung, pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan didalam wawancara selalu diarahkan dalam rangka membangun hubungan
yang akrab, saling menghargai dan penuh kehangatan (rapport), sehingga informan
tidak lekas merasa jenuh apalagi merasa terbebani dengan pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan peneliti.
g. Berhenti sejenak (pausing). Dalam kenyataan
di lapangan seringkali peneliti merasa khawatir bilamana aspek-aspek yang telah
dirancang untuk ditanyakan tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya karena
terbatasnya waktu yang tersedia. Akhirnya tanpa disadari peneliti terus mengejar
informan dengan pertanyaan-pertanyaan sehingga suasana wawancara menjadi kurang
kondusif. Sebaiknya pewawancara harus berhenti beberapa saat agar suasana
keakraban dan rapport yang telah terbina
terpelihara dengan baik.
B.
Melaksanakan Wawancara
Di
dalam pengumpulan data melalui wawancara, ada dua kegiatan yang sangat mendasar
dan saling terkait, yaitu mengembangkan hubungan baik (rapport) dan mengejar
perolehan informasi. Keduanya penting dan menuntut perhatian khusus peneliti.
Dalam pengumpulan data, jangan sampai terjadi kegiatan yang satu mengorbankan
kegiatan aspek lain. Misalnya, karena peneliti khawatir data yang akan
dikumpulkan tidak lengkap, maka ia mengabaikan aspek-aspek yang berkenaan
dengan pembinaan hubungan yang baik dengan informan dengan maksud agar waktu
yang dipergunakan wawancara dapat dipergunakan secara efektif. Sebaliknya juga
tidak boleh terjadi, lantaran sangat menaruh perhatian didalam pembinaan
hubungan yang harmonis dengan informan, data yang dikumpulkan menjadi sangat
sedikit dan tidak lengkap, karena waktu yang tersedia lebih banyak untuk
melakukan sesuatu yang diarahkan untuk menciptakan hubungan baik tersebut. Oleh sebab itu secara garis besarnya ada tiga
kegiatan yang berkaitan dengan
pelaksanaan wawancara, yaitu: (1) memulai wawancara, (2) mengajukan pertanyaan
pokok sekaligus perekaman data, dan (3) mengakhiri wawancara.
1. Memulai
Wawancara
Jika
akan melakukan wawancara, sebaiknya yang terlebih dahulu dilakukan adalah
meluangkan waktu sejenak untuk mengkaji kembali pedoman atau panduan wawancara
yang telah dipersiapkan. Kegiatan ini bertujuan agar ketika wawancara telah
mulai di laksanakan, butir-butir pertanyaan akan ditanyakan dengan lancar tanpa
harus melihat berulang-ulang panduan tersebut, karena hal itu dapat mengganggu
kelancaran wawancara yang sedang lakukan. Bahkan jika panduan wawacara sudah di
persiapkan dengan baik dan telah memahami garis-garis besar pertanyaan dengan
baik panduan tersebut tidak perlu dibaca kembali ketika mengajuan pertanyaan
sehingga suasana wawancara akan terasa lebih rileks. Hal lain yang perlu
diperhatikan kembali adalah kesiapan alat-alat yang akan dipergunakan didalam
mendukung kelancaran wawancara, seperti buku catatan, alat-alat tulis, alat
perekam data lainnya jika hal itu diperlukan. Kesiapan seperti ini nampaknya
sederhana, akan tetapi akan sangat mengganggu bilamana peralatan tersebut tidak
tersedia, sementara peralatan tersebut dibutuhkan ketika wawancara telah
berlangsung. Ketika mengawali wawancara, hal penting yang perlu dilakukan
adalah membina hubungan baik, saling menghargai dan saling percaya, sebagaimana
sekilas telah kita bahas sebelumnya. Rapport tidak harus diartikan
sebagai hubungan yang sangat rapat. Baik peneliti maupun informan adalah
partisipan penelitian yang harus memiliki rasa saling percaya yang besar agar
terjadi arus informasi yang lebih lancar dalam proses pengumpulan data. Pada tahap
awal wawancara ini dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendorong
terciptanya keakraban, keterbukaan dan suasana yang tidak formal. Jika hal ini
telah dilakukan, kemudian lihat bahwa suasana telah mendukung untuk dimulainya
wawancara, Wawancara dapat dimulai dari pertanyaan-pertanyaan yang sederhana.
2. Mengajukan
pertanyaan
Dalam
kaitan dengan butir pertanyaan yang diajukan, Kerlinger (1993):
a.
Apakah
pertanyaan yang akan Kita ajukan berkaitan dengan masalah penelitian dan
sasaran-sasaran penelitian? Selain
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan diarahkan untuk memperoleh informasi
faktual, semua butir di dalam panduan wawancara harus mempunyai fungsi tertentu
dalam masalah penelitiannya. Hal ini juga berarti bahwa semua butir pertanyaan
yang terdapat di dalam panduan wawancara adalah untuk menggali informasi yang
dapat dipergunakan untuk menjawab masalah penelitian dan atau menguji
hipotesis.
b.
Tepatkah tipe
pertanyaan yang akan Kita ajukan? Jika menggunakan bentuk-bentuk pertanyaan terbuka, mungkin akan mendapatkan
informasi tentang sikap, perilaku, atau tentang pkitangan informan tentang
sesuatu secara lebih rinci. Sebaliknya informasi-informasi lain mungkin dapat
diperoleh dengan lebih cepat dan efisien bila menggunakan pertanyaan-pertanyaan
tertutup. Sebagai contoh, bilamana informan meminta untuk mengungkapkan atau
pilihan sesuatu yang lebih disukai di antara dua alternatif atau lebih,
sedangkan alternatif itu dapat diungkapkan secara lugas, maka bentuk
pertanyaan-pertanyaan terbuka cenderung tidak tepat bahkan mungkin dinilai
terlalu boros.
c.
Apakah
butir pertanyaan jelas dan tidak mengundang penafsiran gkita? Suatu pertanyaan atau butir pertanyaan yang ambigu atau gkita
adalah butir pertanyaan yang tidak mengundang penafsiran yang berlainan serta
jawaban yang berbeda-beda dari penafsiran yang majemuk tersebut. Ada beberapa
kaidah didalam menyusun pertanyaan untuk menghindari ambiguitas. Pertama, kita
harus menghindari pertanyaan yang memuat lebih dari satu gagasan yang dapat
direaksi oleh responden. Pertanyaan seperti; “Apakah Kita yakin bahwa tujuan
pembelajaran yang Kita rumuskan sudah cukup baik jika dikaji dari dimensi
peserta didik dan dikaji dari tujuan institusional sekolah Kita?” Contoh
tersebut adalah ambigius, karena informan ditanya sekaligus tentang tujuan
pembelajaran dan tujuan institusional sekaligus dalam satu pertanyaan. Kedua,
hindari kata-kata atau ungkapan yang ambigu, misalnya “Bagaimana pendapat
dan saran Kita tentang butir-butir soal tes ini?” Atau “Bagaimana pkitangan Kita
tentangdisiplin siswa jika dikaji dari peran Kita sebagai guru dan sebagai
orang tua?” Perlu juga diperhatikan bahwa mungkin pada saat tertentu kata-kata
ambigu diperlukan bilamana sengaja bermaksud memancing kerangka pikir yang
berbeda dari para informan.
d. Apakah butir pertanyaan yang Kita rumuskan menggiring
informan untuk memberikan alternatif jawaban tertentu? Pertanyaan-pertanyaan yang sengaja menggiring informan
untuk memberikan jawaban tertentu yang diinginkan, hal itu merupakan ancaman
terhadap validitas wawancara. Contoh: “Apakah Kita
telah membaca catatan-catatan yang saya tulis?” Atau “Apakah Kita telah
menyusun langkah-langkah kegiatan sesuai dengan prosedur yang sudah kita
bahas?” Mungkin Kita akan mendapatkan sebagian besar informan Kita menjawab
“Ya” yang kemungkinan besar tidak proporsional, karena pertanyaan tersebut
menyiratkan tidak baik jika informan belum membaca catatan yang ia buat seperti
contoh pertanyaan pertama, atau tidak menyusun langkah-langkah kegiatan sesuai
prosedur yang telah dibahas bersama seperti pada contoh pertanyaan kedua.
e. Apakah
pertanyaan yang Kita susun menuntut pengetahuan dan informasi yang tidak
dimiliki oleh responden? Untuk menjaga agar
tidak ada butir pertanyaan yang tidak valid, karena kurangnya pengetahuan
informan tentang masalah yang ditanyakan, maka akan lebih baik bilamana
pewawancara menggunakan pertanyaan-pertanyaan saringan. Misalnya ketika
informan bermaksud menanyakan pendapat informan tentang Peraturan Pemerintah
berkenaan dengan Stkitar Nasional Pendidikan, akan lebih baik jika diajukan
pertanyaan apakah informan mengetahui tentang peraturan pemerintah dimaksud.
Ada kemungkinan pewawancara menjelaskan terlebih dahulu secara singkat tentang
hal yang ditanyakan tersebut, baru kemudian menanyakan pendapat responden?
f.
Apakah pertanyaan yang Kita
susun menuntut hal-hal yang bersifat pribadi dan peka sehingga informan Kita
menolak menjawabnya? Jika pertanyaan
menyentuh hal-hal tersebut, maka harus lebih selektif dan berhati-hati.
Pertanyaan-pertanyaan tentang penghasilan atau hal-hal lain yang bersifat
pribadi hendaknya diletakkan pada bagian belakang dalam wawancara, yaitu
setelah tercapainya hubungan baik dan keakraban (rapport) antara
pewawancara dan informan.
g. Apakah
pertanyaan yang Kita ajukan menyiratkan hal-hal yang dianggap baik atau buruk
oleh masyarakat? Pada umumnya
orang-orang cenderung memberikan jawaban sesuai dengan yang dipkitang baik oleh
umum, jawaban-jawaban yang menunjukkan atau menyiratkan kesetujuan pada
tindakan-tindakanatau ikhwal yang dipkitang baik. Misalnya kita menanyakan
kepada seseorang mengenai perasaannya terhadap anak-anak terlantar. Setiap
orang diharapkan memiliki simpati terhadap anak-anak terlantar. Jika kita tidak
berhati-hati kita hanya akan mendapatkan jawaban stereotip atau klise tentang
perasaannya terhadap anak-anak terlantar tersebut. Beberapa pertanyaan di atas
perlu dipahami dengan baik sebagai bahan kajian ketika mengajukan pertanyaan
kepada informan.
3. Menutup
wawancara
Jika wawancara telah selesai dilakukan, terlebih dahulu
harus menahan diri beberapa saat untuk tidak meninggalkan informan. Hubungan
akrab, saling percaya yang telah dibina sejak awal dilakukan wawancara,
hendaknya dapat dipertahankan sampai wawancara benar-benar berakhir. Informan
harus merasakan kepuasan yang peneliti rasakan. Jika merasa ada bagian-bagian
tertentu dari pertanyaan belum dijawab secara tuntas, tidak selayaknya
menunjukkan sikap ketidakpuasan dihadapan informan, karena bilamana telah membina
hubungan baik, Kita dapat meminta kesediaan informan untuk memberikan informasi
melalui wawancara selanjutnya. Ucapkan terima kasih dengan sikap tulus dan
hangat bilamana informasi yang diberikan informan telah dirasa cukup. Kemukakan
secara terbuka bahwa informasi yang disampaikannya benar-benar bermakna bagi
penelitian yang sedang lakukan.
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
Di
dalam kegiatan penelitian, pemahaman data merupakan bagian yang
penting karena
akan mengarahkan seorang peneliti untuk memilih instrumen yang cocok dengan data
yang diinginkannya tersebut. Menurut jenisnya data dalam penelitian
dikelompokkan dalam 4 jenis, yaitu data nominal, data ordinal, data interval,
dan data ratio. Untuk memperoleh data di dalam penelitian, peneliti dapat
menggunakan teknik tes dan teknik non tes. Teknik tes adalah suatu cara untuk
memperoleh data dengan melakukan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau
serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak atau sekelompok anak sehingga
menghasilkan suatu nilai atau prestasi tertentu. Secara umum terdapat beberapa
bentuk tes, yaitu; (a) tes intelegensi, (b) tes sikap, (c) tes hasil belajar,
(d) tes diagnostik, dan (e) performance assessment atau penilaian
kinerja. Bentuk tes yang paling sering dipergunakan guru untuk mengetahui
perubahan atau kemajuan belajar siswa adalah tes hasil belajar. Selain itu tes
juga dapat ditinjau dari segi penyusunannya, bentuk jawaban atau bentuk respon
siswa, atau dilihat dari bentuk pertanyaan yang diberikan oleh guru. Pemahaman
guru tentang berbagai bentuk tes sebagai alat pengumpulan data akan memudahkan
guru untuk melakukan pengumpulan data dalam pelaksanaan PTK.
Di
antara teknik pengumpulan data non tes yang sering dipergunakan
dalam PTK adalah
teknik observasi dan wawancara. Observasi merupakan proses pengamatan secara
sistematis dengan melakukan perekaman terhadap perilaku tertentu untuk tujuan
pembuatan keputusan-keputusan pengajaran Pelaksanaan observasi sebagai alat
pengumpulan data memerlukan persiapan. Salah satu komponen yang perlu
diperhatikan di dalam persiapan pelaksanaan observasi adalah cara perekaman
data. Agar teknik observasi ini dapat dipergunakan sesuai dengan prosedur yang
benar, yaitu: (1) adanya perencanaan bersama, (2) menetapkan fokus pengamatan,
membangun kriteria, dan (3) memiliki keterampilan melakukan observasi. (4)
melakukan balikan (feedback). Ada beberapa bentuk observasi yang sering
digunakan; (a) observasi terbuka, (b) observasi terfokus, (c) observasi
terstruktur, (d) observasi sistematik. Di samping observasi, pengumpulan data
melalui teknik non tes juga seringkali dilakukan melalui wawancara. Wawancara
secara sederhana dapatdiartikan sebagai percakapan dengan maksud tertentu. Ada
beberapa bentuk wawancara yang sering dipergunakan didalam pengumpulan data
penelitian, yaitu: (a) wawancara pembicaraan formal, (b) pendekatan dengan
menggunakan petunjuk umum wawancara, dan (c) wawancara baku terbuka. Dalam pelaksanaan
wawancara disamping peneliti berupaya menghimpun data/informasi yang
diperlukan, juga harus senantiasa menciptakan hubungan yang akrab, harmonis dan
saling percaya. Untuk itu pemahaman terhadap jenisjenis pertanyaan wawancara
perlu dipahami guru dengan baik. Penciptaan hubungan yang baik juga diupayakan
peneliti sampai mengakhiri wawancara.
SUON KANG.....
BalasHapus