Langsung ke konten utama

Konsep Seni




MAKALAH
KONSEP SENI
Tugas ini disusun untuk memenuhi Mata Kuliah
Pendidikan Seni Rupa
Dosen : Moh. Fathurrahman, S.Pd, M.Sn

Disusun oleh :
1.        Athika Rahma Puspita  (1401410006 / 4A)
2.        Pralambang Arief S       (1401410008 / 4A)
3.        Puji Tri Nafati                (1401410021 / 4A)
4.        Itdha Triana S. Y           (1401410084 / 4A)
5.        Eko Bayu Giriyanto       (1401410057 / 4A)



PGSD UPP TEGAL
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2012




BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Masalah penting dalam merencanakan pelayanan pendidikan untuk anak yang belajar seni rupa adalah konsep seni dan konsep pendidikan seni manakah yang dapat kita gunakan untuk membina kreativitas anak.
Berdasarkan dari pemahaman konsep seni dan konsep pendidikan seni tersebut akan membantu kita dalam menerapkan pembelajaran seni rupa pada anak SD. Konsep seni dan konsep pendidikan seni cukup banyak jenisnya. Apabila kita tidak bisa mengidentifikasi jenis konsep mana yang cocok untuk pembelajaran anak SD, kemungkinan kita tidak bisa memebatasi nilai-nilai kegiatan manakah yang sesuai bagi anak SD.
B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan permasalahan yang telah kami paparkan diatas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang dihadapi, antara lain :
1.      Apakah pengertian seni?
2.      Bagaimana konsep pendidikan seni di SD?
3.      Bagaimana pembinaan kreativitas melalui seni?

C.    TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui pengertian seni.
2.      Untuk mengetahui konsep pendidikan seni di SD.
3.      Untuk mengetahui pembinaan kreativitas melalui seni.


BAB II
PEMBAHASAN

KONSEP SENI
  1. PENGERTIAN SENI
Seni adalah fenomena organis serta dapat diukur.  Seperti pernapasan, seni memiliki unsur-unsur irama. Senipun mempunyai unsur ekspresif seperti bahasa. Seni mrnyangkut proses persepsi, pikiran dan fisik. Seni adalah suatu mekanisme yang apabila kita baikan kita sendiri yang akan celaka. Tanpa mekanisme tersebut manusia kehilangan keseimbangan, bahkan masyarakat dan nilai spiritualnya akan berantakan. Hal ini akan menimbulkan tekanan emosional pada manusia, yang pada akhirnya dapat meledak kearah yang negatif.
Definisi seni oleh beberapa tokoh antara lain :
1. Eugene Veron
Seni adalah ekspresi emosional dari kepribadian manusia.
2. Ki Hajar Dewantara
Seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dari hidup perasaannya dan bersifat indah, hingga dapat menggerakan jiwa perasaan manusia.
3. Aristoteles
Seni adalah intuisi. Suatu penciptaan keindahan yang pada hakekatnya adalah proses kejiwaan.
4. Alexander Baumgarten
Seni adalah suatu perwujudan yang memberikan suatu rasa hidmat tehadap orang lain atas keindahan dan wujud karya tersebut.
5. Plato
Seni adalah peniruan dari tiruan atau imitasi dari imitasi.
6. Thomas Muro
Seni adalah alat buatan manusia untuk menimbulkan efek-efek psikologis dari manusia lain yang melihatnya.
7. Popo Iskandar
Seni adalah alat pengutaraan suara batin si Pencipta dalam kesadaran hidup berkelompok.
Dari pengertian tersebut diatas dapat dibuat batasan seni yang mencakup semua aspek, yaitu :
Seni adalah segala kegiatan manusia untuk mengkomunikasikan pengalaman batinnya pada orang lain. Pengalaman batin ini divisualisaikan dalam tata susunan yang indah dan menarik, sehingga dapat memancing timbulnya rasa senang atau puas bagi siapa yang menghayatinya. Visualisasi ini dapat ditangkap oleh :
q  Indera raba menjadi Seni Rupa
q  Indera mata menjadi Seni Tari dan Seni Sastra
q  Indera dengar menjadi Seni Musik/Suara dan Drama
Syarat suatu seni  oleh suatu pengamat seni  dianggap baik apabila bentuk/hasil seni itu memuaskan. Persyaratan seni dianggap baik oleh pengamat yang satu berbeda dengan pengamat yang lain. Karena adanya faktor perbedaan latar belakang yang dimiliki oleh pengamat, perbedaan kepekaan rasa dan selera serta perbedaan pengalaman.
Salah satu kriteria seni yang baik yaitu jika karya/hasil/bentuk seni itu persis dengan alam. 
Marilah kita bandingkan bentuk alam dengan bentuk seni, terlepas dari bentuk seni yang meniru bentuk alam seperti patung manusia, binatang dan lain-lain. Contoh yang sederhana adalah bentuk kendi. Walaupun sangat banyak macamnya tetapi bentuk/struktur yang umum adalah serupa dengan buh jambu  atau tetesan air. Kendi yang berbentuk demikian dianggap indah karena menyerupai bentuk alam. Sehingga pengamat melihat kendi tidak canggung lagi dan memutuskan bahwa bentuk kendi itu indah. Tetapi begitu bentuk tersebut diubah/dimodifikasi maka sebagian pengamat mengatakan indah, tetapi sebagian lain mengatakan tidak indah. Jadi ukuran keindahan yang digunakan oleh pengamat adalah ukuran alam, dimana bentuk alam sering dilihat oleh manusia. Pada kenytaannya, bentuk yang tidak sama dengan alam tidak selalu tak indah. Bisa juga menjadi indah. Dari  uraian tersebut memberikan gambaran bahwa sulit untuk membedakan yang indah dan tidak indah dalam seni. Oleh karena itu, perlu disepakati bahwa hasil ini tidak selalu identik dengan indah. Berawal dari perbedaan keindahan, lahirlah teori obyektif dan subjektif.
a.      Teori  Obyektif
Menurut teori ini, keindahan terdapat pada hasil seni benda itu sendiri, artinya suatu hasil seni yang indah memiliki ciri-ciri, sifat atau kualitas keindahan yang dihasilkan oleh kesatuan dan pertimbangan antara bagian-bagiannya. Bentuknya dapat mirip dengan alam, tetapi dapat pula berbeda sama sekali dengan bentuk yang ada di alam. Teori obyektif ini dianut oleh Plato dan Hegel.
b.      Teori subyektif
Teori ini beranggapan bahwa suatu benda ynag dikatakan indah, sebenarnya tidak memiliki ciri-ciri atau sifat yang menciptakan keindahannya, artinya keindahan itu tidak melekat pada bendanya. Keindahan yang sebenarnyabterletak pada pencermatan pengamatan. Jadi keindahan ditentukan oleh pengamat itu sendiri.



B.     Konsep pendidikan seni di SD
Keindahan budaya manusia bersifat dinamik, terus berkembang dan berubah untuk pencapaian kesempurnaan kehidupan.  Sebagai komponen kebudayaan, baik seni maupun pendidikn mengalami pula perubahan yang sejalan dengan perkembangan/ perubahan pandangan hidup masyarakat. Perubahan di bidang seni dan pendidikan terjadi terutama sejak lahirnya konsep baru di bidang ilmu pengetahuan dan filsafat. Dari sejarah pendidikan seni dapat kita jumpai periode-periode dimana status dan tujuan seni mengalami perubahan-perubahan tertentu, namun pada dasarnya akan tampak ada dua macam konsep yaitu :
a.         Dikaitkan dengan aspek ekspresi artistik
b.         Dikaitkan dengan tujuan pendidikan
Beberapa konsep pendidikan seni antara lain :
§  Gerakan Reform
Gerakan reform adalah usaha pembaharuan di bidang konsep pendidikan seni, yang mengutamakan kebebasan ekspresi sebagai cara untuk memberi peluang kepada anak didik mengembangkan kemampuan yang ada pada dirinya. Gerakan ini bermaksud untuk mendewasakan anak didik bukan hanya pada segi intelektualnya saja, akan tetapi menghendaki “supaya anak-anak belajar dari perbuatan aktif” melalui kegiatan seni sekaligus untuk melatih kedua tangannya supaya syaraf otak kanan dan otak kiri ikut terlatih dalam menjalankan fungsinya.
§  Konsep Pendidikan Seni untuk Apresiasi
Konsep pendidikan seni untuk apresiasi dipelopori oleh Alfred Lichtwart dan Konrad Lange dengan pemikiran bahwa “persepsi” anak-anak terhadap seni dan keindahan perludikembangkan melalui penghayatan langsung, baik melalui kegiatan menggambar dan observasi, denganobjek-objek seni seperti museum, sanggar seniman, pameran dan sebagainya.
Karena objek seni terbatas, lahirlah kemudian “picture study”, yaitu kegiatan apresiasiyang menggunakan gambar-gambar reproduksi. Tujuannya adalah mengembangkan kepekaan apresiasi yang menggunakan gambar-gambar reproduksi. Tujuannya adalah mengembangkan kepekaan apresiasi pada anak-anak terhadap karya seni agar cita rasa anak terpengaruh oleh unsur-unsur isi dari karya tersebut dan menyenangi hasil seni.
§  Konsep Pendidikan Seni Rupa
Konsep ini bermula dari pemikiran bahwa “menggambar adalah untuk mengungkapkan pikiran”. Gambar adalah bahasa, suatu cara untuk melahirkan dan mengembangkan ide”. Menggambar  suatu obyek berarti menerjemahkan persepsi ke dalam bahasa visual. Kegiatan menggambar  adalah menggambarkan sensasi indrawi sehingga menghasilkan impresi yang tidak dapat diinterprestasikan. Menggambar merupakan kegiatan mental dan pikir yang dapat membentuk konsep. Konsep ini memandang seni pada proses kegiatan mental dan pikir yang dapat membentuk konsep. Konsep ini memandang seni pada proses kegiatannya yang terkait dengan kemampuan kognitif. Pencetus konsep ini adalah Walter Sargent.
§  Konsep Pendidikan Seni untuk Pertumbuhan Mental dan Kreatif
Pada dasarnya, konsep Lowenfeld ini bermaksud menjelaskan terjadinya pertumbuhan mental dan kreatif diri anak didik, di mana  kegiatan seni merupakan sarana bagi “processing-nya”. Baginya, anak adalah idealnya, sedangkan seni adalah saranaya. Selain itu ada beberapa pandangan tentang konsep seni yang berkembang  di masyarakat  antara lain:
§  Konsep Seni sebagai Keindahan
Konsep keindahan dikembangkan dari peniruan obyek-obyek yang terseleksi. Kriteria dari obyek yang akan ditiruadalah keindahan. Yang seni adalah yang indah, dan yang indah adalah yang seni . Seni dikatakan sebagai identik dengan keindahan. Konsep ini berasal dari Yunani yang bersumber dari filsafat antropomorfis, yaitu filsafat hidup yang memuja segala macam nilai-nilai kemanusiaan. Menurut konsep ini manusia diidealisasikan sebagai kulminasi dari proses alamiah.
§  Konsep Seni sebagai Imitasi
Berasal dari estetika Plato “memisis” yang artinya meniru. Kegiatan seni adalah kegiatan meniru alam, dan setiap hasil seni haruslah bentuk tiruan dari alam. Sebuah lukisan dapat diatagorikan sebagai seni apabila menduplikat dari alam.
Konsep Seni Sebagai Hiburan yang Menyenangkan
Konsep ini berpendapat bahwa hasil seni haruslah bias menghibur dan menyenangkan pengamat, jika tidak demikian maka hasil tersebut bukan karya seni.kesenangan dari pengamat menjadi tuntutan seni, dengan cara pengamat dapat menangkap pesan atau ide dari penciptanya. Dalam pendidikan seni di Sekolah Dasar, konsep pendidikan ini diarahkan pada pembentukan sikap, sehingga terjadi keseimbangan intelektual dan sensibilitas, rasional dan irasional, akal pikiran dan kepeaan emosi. Konsep ini menempatkan seni sebagai sarana pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Pernyataan tersebut mengacu pada pengertian seni dipandang sebagai materi, alat atau media, dan metode yang digunakan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Pada anak usia Sekolah Dasar, ungkapan perasaan anak yang masih polos memungkinkan mereka untuk berekspresi secara wajar dan penuh spontan sehingga proses tersebut memiliki kebermaknaan bagi perkembangan mereka. Masa anak-anak merupakan masa berkembangnya kreativitas. Kreativitas tampak di awal kehidupan anak dan tampil dalam bentuk permainan. Kehidupan anak Sekolah Dasar kebanyakan bermain. Kegiatan yang disenangi anak inilah diarahkan untuk mengembangkan kreativitas.
Dengan demikian, berekspresi secara kreatif dimanfaatkan untuk membina dan mengembangkan kreativitas anak pada usia dini.
Pendidikan merupakan usaha untuk membantu anak mencapai kedewasaannya, demikian pula pendidikan seni. Karena itu semua cabang seni juga dapat digunakan sebagai media untuk pendidikan. Seni sebagai cara dan sebagai sarana. Seni sebagai sarana/media pendidikan adalah konsep pendidikan yang sesuai bagi anak-anak Sekolah Dasar. Sedangkan seni sebagai tujuan sering diselenggarakan di sekolah seni atau sanggar.
Oleh sebab itu, untuk pendidikan seni di Sekolah Dasar, guru tidak mengajarkan bagaimana cara menggambarkan orang atau bagaimana menari Jaipong atau bagaimana menjadi seorang pemain music yang professional. Tetapi lebih mengarah kepada pembinaan dan pengembangan segala potensi yang ada pada anak. Banyak guru di Sekolah Dasar yang berpendapat bahwa mengajar pelajaran kesenian harus trampil menggambar, melukis, menari, menyanyi/dan bermain music. Dengan demikian banyak guru yang merasa kesulitan dan tidak melaksanakan pelajarwn tersebut karena merasa tidak terampil menggamabr, menari, atau menyanyi. Pada dasarnya guru Sekolah Dasar sebagai fasilitator, motivator, dinamisator dalam proses pembelajarannya.

C.    Pembinaan Kreativitas Melalui Seni
Pada umumnya kreativitas diartikan sebagai daya atau kemampuan untuk mencipta, tetapi sebenarnya istilah ini mempunyai arti yang lebih yaitu meliputi :
1.      Kelancaran menganggapi suatu masalah,ide,atau materi
2.      Mudah menyesuaikan diri terhadap situasi
3.      Memiliki keaslian, selalu dapat membuat tanggapan yang lain daripada yang lain
4.      Mampu berpikir secara integral, bias menghubungkan yang satu dengan yang lain, serta dapat membuat analisis dengan tepat
Kreativitas dalam pendidikan seni akan berperan dalam mengembangkan kemampuan kognitif. Seni dapat memancing tumbuhnya kemampuan kreatif, bila kreativitas itu elah berkembang dan meningkat, maka kemampuan kreatif akan berguna untukbidang ilmu yang lain.
Jelaslah bahwa kreativitas tidak hanya diperlukan dalam kesenian saja, tetapi juga diperlukan dalam bidang lain gunamembentuk kepribadian anak seutuhnya. Dalam segala kehidupan anak sehari-hari diperlukan kreativitas. Harus berpikir cepat dan tepat, menyesuaikan diri, menentukan sikap dan sebagainya. Kemampuan-kemampuan inilah yang harus dikembangkan pada anak.
Kreativitas menurut S.C Utami Munandar dapat dibedakan menjadi tiga pengertian :
Pertama, diartikan sebagai kemampuan untuk membuat kondisi baru, dan unsure-unsur yang ada. Biasanya diartikan sebagai daya cipta, sebagai kemampuan untuk menciptakan hal-hal baru sama sekali. Sebenarnya yang diciptakan itu tidak perlu yang baru sama sekali, tetapi cukup merupakan gabungan dari hal-hal yang sedah ada sebelumnya. Gagasan-gagasan yang kreatif tidak muncul begitu saja, tetapi membutuhkan persiapan. Pengalaman memungkinkan seseorang mencipta dengan cara menata, menyusun, atau membaurkan unsure-unsur menjadi sesuatu yang baru.
Kedua, diartikan sebagai kemampuan menggunakan data atau informasi yang tersedia, yaitu menemukan jawaban terhadap suatu masalah, yang penekananny pada kualitas ketepatgunaan dan keragaman jawaban, makin banyak kemungkinan jawaban yang dapat diberikan terhadap suatu masalah, makin kreatiflah seseorang.
Ketiga, diartikan sebagai kemampuan yang mencermiinkan kelancaran, keluwesan, kemurnian (orisinil) dalam mengembangkan dan memperkaya gagasan. Banyak kegiatan yang dapat disiapkan/direncanakan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan anak.

§  Pembinaan Kreativitas Melalui Pendidikan Kesenian di SD
Anak usia SD merupakan masa “keemasan berekspresi kreatif”. Kadar kreativitas anak masih sangat tinggi. Anak dapat melakukan kegiatan berolah seni rupa secara wajar dan spontan, karena daya nalar anak belum samapi membatasi keleluasan untuk berkarya secara murni dan lugu.
 Kreativitas, menurut S.C Utami Munandar (dalam Muharam, hal 27) dapat dibedakan menjadi tiga pengertian, yaitu :
Pertama, diartikan sebagai kemampuan untuk membuat kondisi baru, dan unsur-unsur yang ada. Biasanya diartikan sebagai daya cipta, sebagai kemampuan untuk menciptakan hal-hal baru sama sekali. Sebenarnya yang diciptakan itu tidak perlu baru sama sekali, tetapi cukup merupakan gabungan dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Gagasan-gagasan yang kreatif tidak muncul begitu saja, tetapi membutuhkan persiapan. Pengalaman memungkinkan seseorang mencipta dengan cara menata, menyusun, atau membaurkan unsur-unsur menjadi sesuatu yang baru.
Kedua, diartikan sebagai kemampuan menggunakan data atau informasi yang tersedia, yaitu menemukan jawaban terhadap suatu masalah, yang penekanannya pada kualitas ketepatgunaan dan keragaman jawaban. Makin banyak kemungkinan jawaban yang dapat diberikan terhadap suatu masalah, makin kreatiflah seseorang.
Ketiga, diartikan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran, kemurnian (orisinil) dalam mengembangkan dan memperkaya gagasan. Banyak kegiatan yang dapat disiapkan/direncanakan oleh guru untuk meningkatkan anak.
§  Pembinaan Kreativitas Melalui Pendidikan Kesenian di SD
Anak usia SD merupakan masa “keemasan berekspresi kreatif”. Kadar kreativitas anak masih sangat tinggi. Anak dapat melakukan kegiatan berolah seni rupa secara wajar dan spontan, karena daya nalar anak belum sampai membatasi keleluasaan untuk berkarya secra murni dan lugu.
Berbagai bahan dan teknik dapat dicobakan pada anak. Pengolahan bahan sederhana seperti limbah dan bahan alam merupakan media yang memberi banyak kemungkinan dalam upaya membina dan mengembangkan kreativitas. Anak memiliki banyak alternatif mengolah bahan. Teknik di dalam menghasilkan karya dua dimensi sangat memungkinkan anak untuk berkreasi dan menemukan sendiri. Seperti kegiatan membutsir dengan tanah liat atau plastisin, menggunting kertas dan kain, mencetak bahan alam perlu untuk diperkenalkan pada anak SD.
Dalam dunia anak dikenal dua macam berpikir kreatif.
Pertama adalah berpikir konvergen dan kedua berpikir divergen.
Berpikir divergen biasanya adalah hasil pertanyaan dengan satu jawaban atau kesimpulan dari satu masalah. Contohnya jika anak bertanya beberapa jumlah ikan di dalam satu aquarium, hanya ada satu jawaban yang benar. Sedangkan berpikir konvergen adalah beberapa jawaban dari satu masalah. Contohnya anak menanyakan banyak hal tentang aquarium, maka akan ada beberapa kemungkinan jawaban.
Dalam pendidikan seni, anak diarahkan untuk cenderung pada berpikir konvergen. Dengan berpikir konvergen anak dilatih untuk menunjukkan diri, memamerkan idenya, dan menunujukkan eksperimennya. Mereka mendapat banyak keuntungan dari kreativitas ini, antara lain :
1.    Belajar menghargai diri sendiri
2.    Belajar memecahkan masalah dengan berbgai alternatif jawaban
3.    Mengembangkan kemampuan berpikir
4.    Mengembangkan kepribadian
5.    Mengembangkan ketrampilan
Dengan memberi dorongan berkreatif, guru juga memperoleh keuntungan, antara lain :
1.    Mengembangkan dan meningkatkan pembelajarannya
2.    Belajar mengorganisasikan ketrampilan spesifik dari anak
3.    Meningkatkan hubungan yang lebih akrab dengan anak
4.    Tidak menjumpai banyak problem tingkah laku anak
Untuk mengidentifikasi kreativitas diri anak, perlu dicatat beberapa hal-hal sebagai berikut :
1.    Semua anak memiliki kreativitas yang berbeda tingkatannya
2.    Sebagian anal lebih kreatif dari yang lain
3.    Kreativitas anak lebih nampak disatu bidang dibandingkan dengan bidang lain yang dimiliknya
Contohnya seseorang anak lebih kreatif menggambar dibandingkan dengan membuat patung.
4.    Guru yang tidak mengenal kreativitas justru akan menghancurkan kreativitas anak.

BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa konsep seni terdiri dari pengertian seni, konsep pendidikan seni di SD, dan pembinaan kreativitas melalui seni.

DAFTAR PUSTAKA
Herawati, Ida Siti dan Iriaji. (1998). Pendidikan Seni Rupa.                     : DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI PROYEK PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR.













Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ciri Khusus pada Hewan dan Tumbuhan

Ciri Khusus Tumbuhan Ciri Khusus Tumbuhan yang Hidup di Air Dan di Lingkungan yang Lembap Batangnya berongga berisi udara untuk mengapung di air. Contoh            : Eceng gondok Kangkung Genjer Daunnya lebar dan tipis untuk mempercepat penguapan. Contoh            : Teratai Lotus/seroja Talas keladi Ciri Khusus Tumbuhan yang Hidup di Gurun Berdaun kecil menyerupai duri untuk mempercepat proses penguapan. Contoh            : Kaktus Ciri Khusus Tumbuhan yang Hidup di Pantai Mempunyai akar napas yang muncul di permukaan air untuk pertukaran oksigen. Contoh            : Bakau ( mangrove ) Ciri Khusus Hewan Memilili Misai/Kumis di Bibir Atas dan Bibir Bawah Contoh: Lele, pada misainya terdapat indra pengecap yang me...

gambar bintang bisa untuk reward anak SD

Seni Rupa (kerajinan lilin bentuk karyaku)

Alhamdulillah, senangnya aku bisa memperbaiki nilai seni kerajinan lilin bentukku dari 78 menjadi 87 semoga hasil dan nilai akhirnya memuaskan. Sterofoam, sabun, dan percik... fighting semoga nilai UAS nya bagus dan IPnya meningkat. Jadi deg2an deh