FUNGSI SENI RUPA DI
SEKOLAH DASAR
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan
Seni Rupa
Oleh
Disusun Oleh :
1.
Evi Nurhidayati (1401410011)
2. Tsalis
Hanifah (1401410020)
3. Desye
Wulandari (1401410029)
4. Nurulita
Sufazen (1401410054)
5. Jaenal
Aripin (1401410086)
6. Meidian
Kusumahati (1401410113)
Rombel : 4A
PENDIDIKAN
GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
NEGERI SEMARANG
2012
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Seni memiliki bermacam – macam fungsi.
Di SD, seni ternyata utamanya difungsikan untuk menumbuh kembangkan kepribadian
anak. Untuk dapat mengikutsertakan fungsi tersebut dalam pembelajaran seni pada
anak – anak SD, sebagai calon guru seharusnya mampu memahami dan
mengidentifikasi fungsi – fungsi seni. Sebaliknya, jika guru tidak memahami
berbagai fungsi seni, banyak kemungkinan fungsi seni yang semestinya bisa
dimanfaatkan untuk dapat membantu menumbuhkembangkan kepribadian anak., menjadi
tidak teralami pada diri anak-anak. Untuk dapat memahami berbagai fungsi seni
dan aplikasi fungsi seni dalam makalah ini akan dibahas masalah tersebut.
B. Tujuan
Makalah
ini disusun, bertujuan untuk:
1. Memahami
fungsi seni secara umum;
2. Memahami
fungsi seni di Sekolah Dasar;
3. Memahami
tentang cara mengaplikasikan fungsi-fungsi seni tersebut dalam pembelajarannya
di Sekolah Dasar.
C. Rumusan
Masalah
1. Apakah
fungsi seni secara umum?
2.
Apa
sajakah fungsi seni di Sekolah Dasar?
3.
Bagaimanakah
cara mengaplikasikan fungsi-fungsi seni dalam pembelajarannya di Sekolah Dasar?
PEMBAHASAN
A. Fungsi
Seni Secara Umum
Sebagai unsur budaya, seni hadir
atau diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia baik lahir maupun batin.
Sebuah unsur budaya akan tetap terpelihara keberadaannya jika unsur budaya
tersebut masih berfungsi dalam kehidupan sosial. Dalam kehidupan sehari-hari
kita dapat merasakan betapa kita sangat membutuhkan sarana berekspresi dalam
menikmati keindahan bentuk.
Berdasarkan fungsinya dalam memenuhi
kebutuhan manusia, seni dipilah menjadi beberapa kelompok.
1. Fungsi Individual
Manusia terdiri
dari unsur fisik dan psikis. Salah satu unsur psikis adalah emosi. Maka fungsi
individual ini dibagi menjadi fungsi fisik dan fungsi emosi.
a.
Fungsi fisik ini banyak dipenuhi melalui seni pakai yang
berhubungan dengan fisik, seperti; busana, perabot, rumah alat transportasi dan
sebagainya.
b. Fungsi emosional ini dipenuhi
melalui seni murni, baik dari senimannya maupun dari pengamat atau konsumennya.
Contoh: lukisan, patung, film dan sebagainya.
2. Fungsi Sosial
Fungsi sosial
artinya dapat dinikmati dan bermanfaat bagi kepentingan orang banyak dalam
waktu relative bersamaan. Fungsi ini dikelompokkan dalam beberapa bidang.
a. Rekreasi / hiburan. Seni dapat
digunakan sebagai sarana untuk melepas kejenuhan atau mengurangi kesedihan.
Contoh: film, komedi, tempat rekreasi dan sebagainya.
b. Komunikasi. Seni dapat digunakan
untuk mengkomunikan sesuatu seperti pesan, kritik, kebijakan, gagasan, dan
produk kepada orang banyak. Contoh: iklan, poster, spanduk, dan lain-lain.
c. Edukasi / Pendidikan. Pendidikan
juga memanfaatkan seni sebagai sarana penunjangnya, contoh; gambar ilustrasi
pada buku pelajaran, poster ilmiah, foto dan sebagainya.
d. Religi / Keagamaan. Karya seni dapat
dijadikan ciri atau pesan keagamaan. Contohnya; kaligrafi, arsitektur tempat
ibadah, busana keagamaan dan sebagainya.
B. Fungsi
Seni di Sekolah Dasar
Pendidikan seni pada umumnya meliputi rupa, seni musik,
seni tari dan seni drama (seni teater). Sejak awal munculnya kurikulum umum
para pendidikan seni rupa berjuang agar seni dipertimbangkan secara serius.
Sejak lama seni telah diasumsikan memiliki peranan penting untuk menghasilkan
warga masyarakat yang baik, tambahan bagi mata pelajaran akademik, program
khusus bagi anak-anak berbakat, atau kegiatan ekstrakurikuler.
Berikut ini adalah fungsi seni di sekolah dasar.
1. Sebagai
Media Ekspresi
Kegiatan ekspresi telah dimulai anak
sejak lahir. Mula-mula mengekspresikan keinginan-keinginan nalurinya untuk
diketahui ibunya dengan tangisan atau isyarat – isyarat lainnya. Ekspresi yang ditunjukan oleh anak merupakan
ekspresi keinginan untuk mencapai suatu tujuan tertentu misalnya memuaskan rasa
lapar, dapat pula mengekspresikan sesuatu yang tak mengarah pada satu objek
melainkan hanya menyatakan perasaan seperti gembira, cemas, marah dan
sebagainya. Kedua macam ekspresi tersebut saling berhubungan, pemuasan rasa
lapar misalnya mengakibatkan rasa gembira yang dinyatakan dengan senyuman dan
rasa lapar yang tak terpuaskan akan terekspresikan dengan sedih atau menangis.
Seringkali anak
kurang mampu megeluarkan isi hatinya lewat bahasa lisan. Dan bagi anak, bahasa
tulisan lebih sulit untuk digunakan mengungkapkan isi hatinya. Dalam keadaan
seperti itu, seni dapat membantu mengekspresikan idenya. Ekspresi adalah salah
satu kebutukan rohaniah / batiniah individu untuk berhubungan dengan orang
lain. Dalam hal ini pikiran, perasaan dan emosi ikut berperan.
Ekpresi anak
berbeda dengan ekspresi orang dewasa karena kebutuhannya berlainan. Ekspresi
ini perlu mendapat perhatian dan guru perlu mengembangkannya. Wujud ekspresi
dalam seni rupa dapat berupa gambar, patung, cetakan dan karya lainnya.
Terjadinya ekspresi secara spontan tanpa perintah dari luar. Pengembangan daya
ekspresi ini akan terkait dengan pengembangan kreativitas. Sebab ada 2 macam
ekspresi yang terjadi dari anak yaitu ekspresi kreatif dan ekspresi yang tidak
kreatif.
Ekspresi kreatif
ialah ekspresi yang mengandung
kreativitas, terutama yang dijumpai dalam kegiatan berolah seni. Artinya segala
hasil ungkapan anak baik berupa gambar, patung atau lainnya yang menampakkan
keunikan, lain daripada yang lain. Sebaliknya, ekspresi yang tidak kreatif
adalah ekspresi yang tidak menghasilkan nilai-nilai kreatif atau merupakan hasil
tiruan, hasil pengulangan atau hasil jiplakan.
Ekspresi kreatif
inilah yang harus dikembangkan oleh guru SD dalam setiap pembelajaran kesenian.
2. Sebagai
Media Komunikasi
Mengapa anak
berhasrat melahirkan sesuatu yang ada pada perasaannya? Mengapa ia tidak puas
dengan menyatakan dalam hati saja? Mengapa ia ingin berkomunikasi?
Komunikasi
mengandung arti keinginan untuk menyampaikan sesuatu pada orang lain. Keinginan
berkomunikasi dapat melalui berbagai
media seperti suara, tulis, gerak, dan gambar. Melalui suara komunikasi dapat
diwujudkan dalam bentuk nyanyian atau musik.
Contoh: dalam seni
suara, banyak lagu yang berisikan pesan yang ingin disampaikan pada pihak lain.
Karya sastra atau puisi merupakan media komunikasi yang ingin disampaikan
penciptanya pada orang lain melalui tulisan. Drama atau bermain peran merupakan
media komunikasi yang diwujudkan dalam gerak dan ucapan. Gambar merupakanmedia
komunikasi yang dibentuk dengan bahasa rupa yang cenderung paling banyak
dilakukan oleh anak.
3. Sebagai
Media Bermain
Ekspresi bebas
meliputi banyak kegiatan fisik dan proses mental. Bermain merupakan ekspresi
bebas yang paling jelas yang ada pada anak-ana, merupakan sesuatau yang
dihasilkan oleh anak-anak yang paling murni. Permainan adalah ekspresi tentang
hubungan si anak dengan seluruh kehidupan. Sifatnya
spontan dan timbul dengan sendirinya. Segala bentuk permainan, kegiatan
jasmani, pengulangan pengalaman, fantasi, permainan dalam kelompok dan lainnya
merupakan gerakan – gerakan yang berusaha mencari perpaduan antara proses
mental dan gerak fisik.
Permainan
menyangkut juga kegiatan seni
Permainan bisa dikembangkan menjadi empat sesuai dengan
empat fungsi mental.
a. Dari
segi perasaan, permainan dapat dikembangkan dengan latihan-latihan penjiwaan
kea rah drama.
b. Dari
segi intuisi, dikembangkan dengan latihan – latihan ritmis kea rah tari dan
music.
c.
Dari
segi sensasi, dapat dikembangkan dengan cara mengekspresikan diri kea rah
disain plastis atau visual.
d. Dari
segi fikiran, dikembangkan dengan kegiatan-kegiatan konstruktif kea rah
keahlian.
Ke arah empat perkembangan inilah pendidikan seni
ditunjukkan. Idealnya keempat fungsi mental berkembang secara bersama – sama.
Hal ini jarang terjadi. Yang umum adalah tiga fungsi mental berkembang bersama dengan satu fungsi lain
yang lebih dominan.
Dalam kegiatan bermain, anak menyatakan dan mengusahakan
segala kecenderungan batinnya untuk menjadi harmonis. Akan hilanglah kesempatan
untuk perkembangan mental anak jika ia tidak dapat bermain.
Dengan demikian maka kegiatan bermain bagi anak sangatlah
penting. Kegiatan tersebut dapat dilaksanakan dalam pelajaran kesenian. Baik
secara disadari maupun tidak, dalam kegiatan ini, anak dapat bermain sesuai
pembawaannya. Karena kegiatan kesenian cenderung kea
rah artistic, maka kegiatan bermain juga cenderung pada permainan artistic.
Misalnya kegiatan anak untuk memukul, memijat, meremas dengan tanah liat, akan
menghasilkan suatu bentuk yang unik bahkan menjadi indah dan menarik.
4. Sebagai
Media Pengembangan Bakat Seni
Pada umumnya orang berpendapat bahwa
bakat dibawa anak sejak lahir. Namun bakat yang terpupuk sejak awal akan lebih
baik perkembangannya, sebaliknya, meskipun berbakat tetapi tidak dipupuk maka
akan pudarlah bakat tersebut.
Pendidikan seni rupa yang ideal
memberikan kesempatan kepada anak yang berbakat untuk memelihara dan
mengembangkan bakatnya sejak awal masa sekolahnya, sehingga iadapat menjadi
senirupawan.
5. Sebagai Media Kemampuan Berpikir
Kegiatan seni dapat
melibatkan berbagai alat/bahan permainan yang secara langsung maupun tidak
langsung mengembangkan kemampuan bernalar. Berbagai permainan yang bersifat
eksploratori dan eksperimental memiliki nilai tersendiri.
Sebagai contoh: bermain di bak pasir akan menantang anak
untuk bertanya/berpikir mengapa pasir tidak dapat disusun meninggi tanpa diberi
air, tetapi tanah liat dapat dibentuk dengan mudah jika kandungan airnya tepat.
Balok permainan tidak dapat disusun seenaknya menjadi bentuk arsitektural,
tetapi dibutuhkan satu penyusunan yang terpola.
Penemuan tentang
sifat, kemungkinan, teknik serta prosedur pada saat anak melakukan kegiatan
seni, memotivasi anak untuk berpikir dan mengambil kesimpulan. Bahkan
Aristoteles mengatakan, bahwa dalam seni harus ada keselarasan antara rasio dan
emosi. Penciptaan seni menempatkan rasio sebagai kontrol.
6. Fungsi
seni Sebagai Media untuk Memperoleh Pengalaman Estetis
Istilah estetis di
sini identik dengan keindahan. Semua cita rasa keindahan terpusat pada
kesenangan dan merupakan pengalaman subyektif. Subyektif dalam arti sulit untuk
ditentukan tolak ukurnya. Oleh sebab itu, perlu untuk mengembangkan cita rasa
keindahan dalam rangka membuat utuh perkembangan pribadinya dan meningkatkan
pengalaman serta kepekaan akan rasa keindahan.
Di dalam pendidikan
kesenian, anak dapat memperoleh pengalaman keindahan. Caranya dimulai dengan
mengamati hasil karya seni yang mengandung nilai estetis, kemudian diajak untuk
membahas dan mengusahakan agar anak mendapat kesenangan dengan pengamatan karya
tersebut. Dari kegiatan pengamatan yang berulang kali dilakukan, kemudian anak
diajak untuk melakukan kegiatan berkarya.
Setiap anak memiliki naluri dorongan
citarasa keindahan. Jika naluri
ini tidak ditumbuh kembangkan, maka naluri tersebut akan “mati”.
Hal-hal yang
menyenangkan yang diperoleh anak dari mengamati obyek yang indah akan
berkembang menjadi kesenangan anak untuk berkarya yang indah. Atau sikap serta
cara pengalaman citarasa keindahan akan mempengaruhi kemampuan citarasa
keindahan anak. Semakin mendalam sikap serta
pengalaman citarasa keindahan, semakin pekalah citarasa keindahan itu.
Kepekaan inilah yang dikembangkan dalam
Pendidikan Kesenian, sebab kepekaan tersebut menjadi dasar dalam mengapresiasi
seni, berolah seni dan menghargai karya hasil bangsa sendiri maupun bangsa
lain.
Fungsi
didik senirupa hakekatnya adalah sebagai sarana untuk membentuk kepribadian
(cipta, rasa, karsa) secara utuh dan bermakna, melalui kegiatan praktek berolah
senirupa sesuai dengan potensi maupun kompetensi pribadinya dan kepekaan daya
apresiasinya. Menurut Sofyan Salam (2001) manfaat pendidikan senirupa bagi anak
SD adalah: (1) memberikan kesempatan bagi anak untuk mengekspresikan dirinya
sendiri, (2) mengembangkan potensi kreatif anak, (3) mempertajam kepekaan anak
akan nilai-nilai keindahan, (4) memberikan kesempatan bagi anak untuk mengenal
bahan, alat serta tehnik berkarya senirupa, (5) untuk menghasilkan sesuatu yang
baru. Dengan demikian dapat diperoleh dampak instruksional dan dampak pengiring
(nurturant effect) yaitu berani mengemukakan pendapat, punya rasa kesetiakawanan
sosial dan toleransi, bersikap menghargai budaya bangsa, mampu berpikir secara
integral serta mempunyai wawasan tentang seni yang dapat dimanfaatkan untuk
mempelajari bidang lainnya (Ida Siti Herawati.1996).
C. Aplikasi Fungsi Seni dalam Pembelajaran
Seni Rupa di SD
Pada dasarnya
semua fungsi seni dapat diaplikasikan ke dalam semua materi pembelajaran seni. Tetapi yang cenderung paling dominan
adalah sebagai berikut:
1. Fungsi seni sebagai media ekspresi
dapat diterapkan pada materi: kelompok gambar ekspresi, membentuk bebas,
menggambar ilustrasi, gambar imajinatif, relief dan membuat model.
2. Fungsi seni sebagai media komunikasi
dapat diaplikasikan pada materi yang dijabarkan dari pokok bahasan: gambar
ekspresi, kolase, montase, mozaik, gambar bentuk, gambar ilustrasi dengan tema
realis.
3.
Fungsi seni sebagai media bermain dapat
diterapkan pada seluruh kegiatan pelajaran seni. Karena konsep dasar dalam
pengembangan mata pelajaran ini adalah bermain sambil belajar. perlu diingat
bahwa makin tinggi kelasnya sesuai dengan berkembangnya intelektual siswa,
makin “berkurang” kadar bermainnya.
4. Fungsi seni sebagai media
pengembangan bakat seni dapat diaplikasikan pada kegiatan yang bercirikan
ketrampilan terutama pada membentuk, menganyam, macramé, membuat model, dan
relief. Bagi anak yang mulaikelas awal sudah tampak kemahirannya dalam salah
satu cabang seni, maka guru dapat meningkatkan bakat tersebut pada seluruh
kegiatan kesenian, baik pada seni rupa, seni music, atau seni tari. Seperti
diketahui, bahwa menyanyi yang baik dengan suara yang merdu hanya dapat
dilakukan oleh anak yang berbakat. Demikian juga untuk dapat menari yang baik
dengan baik dengan kepekaan citarasa yang tinggi juga hanya dapat dilakukan
oleh anak yang berbakat menari.
5. Fungsi seni sebagai media berpikir
dapat dikembangkan terutama pada pokok bahasan: lipatan, kolase, montase,
mozaik, cetak, melengkaapi gambar, sablon, bangunan dan penataan, aplikasi
dengan teknik menjahit/sulaman,
Sejalan dengan fungsi dan tujuan
pendidikan senirupa, maka dalam
pembinaan kemampuan berkreasi/berkarya senirupa akan meliputi semua bentuk
kegiatan tentang aktivitas fisik, pikir, keterampilan, kreativitas dan cita
rasa keindahan. Kesungguhan dalam berolah senirupa tersebut akan terlihat dalam
kegiatan berekspresi, bereksplorasi, berkreasi dan berapresiasi. Pendidikan
senirupa di SD umumnya diwujudkan pada kegiatan berolah cipta senirupa dan
kerajinan tangan. Adapun pendekatan materi senirupa dalam pembelajaran di SD
antara lain dapat dilakukan melalui belajar tentang pengenalan elemen/unsure
seni, prinsip-prinsip seni/azas desain, proses dan teknik berkarya senirupa
serta apresiasi sesuai dengan nilai-nilai budaya serta keindahan yang relevan
dengan konteks sosial budaya masyarakat.
Selain itu dalam pendidikan senirupa
di SD hendaknya juga dapat diciptakan suasana belajar yang “Aktif Kreatif
Efektif dan Menyengkan (PAKEM) Dalam penerapan PAKEM di SD didasarkan pada
pemahaman sebagai berikut ini. Aktif, dalam proses pembelajaran guru harus
menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif belajar, bertanya,
menjawab, mengemukakan gagasan, berkarya, berapresiasi dan lainnya. Kreatif,
adalah guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi
berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan, adalah suasana kegiatan belajar
mengajar yang dapat memusatkan perhatian siswa secara penuh pada
materi/kegiatan belajar sehingga waktu curah perhatiannya (time on task)
tinggi. Sedangkan Efektif yaitu dapat menghasilkan produk belajar
yang tinggi/optimal. (Depdikbud-Unesco. 2002). Gambaran penerapannya di SD yaitu:
(1) siswa mengerjakan kegiatan belajar
yang beragam untuk mengembangkan keterampilan dan pemahaman dengan pendekatan
belajar sambil bekerja/berbuat;
(2) guru menggunakan berbagai sumber
belajar dan alat bantu belajar termasuk pemanfaatan lingkungan supaya
pembelajaran lebih menarik, menyenangkan dan efektif;
(3) menata kelas dengan lebih baik
seperti memajang hasil kegiatan belajar, hasil akhir karya siswa, membuat sudut
baca dan lainnya;
(4) menerapkan cara mengajar secara
bervariasi, bersifat kerja sama dan teraktif (kooperatif dan interaktif) antar
sesama siswa atau kerja individual;
(5) guru mendorong siswa untuk
memecahkan masalah, mengungkapkan pikirannya dan melibatkan siswa untuk
menciptakan lingkungan sekolah yang bermanfaat untuk sumber belajar.
Secara
bervariasi dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru hendaknya
menggunakan strategi/pendekatan mengajar yang dapat memadukan keaktifan siswa
dalam belajar, baik secara fisik, mental dan emosional. Keterpaduan secara konseptual adalah suatu
pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran atau sejumlah
materi, konsep, aktivitas yang berhubungan untuk memberikan pengalaman yang
bermakna kepada anak Dasar pertimbangannya adalah: (1) keseluruhan perkembangan
anak SD bersifat holistik; (2) anak usia SD dapat belajar dengan baik yaitu
melalui keterlibatan aktif dengan sesama anak dan dengan orang dewasa; (3)
memungkinkan pembelajaran lebih menarik dan bermakna bagi siswa, medorong
kreativitas guru dalam mengajar, memungkinkan anak mempelajari fakta-fakta
dalam konteks yang lebih nyata dan kongkrit, (4) dapat memberikan kesempatan
membentuk berbagai keterampilan seperti menemukan, menilai, memanfaatkan
informasi dalam konteks yang bermakna, kerjasama dan mandiri.
Dalam implementasi di SD, pendekatan
keterpaduan ini antara lain bertolak dari suatu topik/tema yang dipilih atau
dikembangkan oleh guru bersama anak. Tujuannya agar konsepkonsep dan aspek dari
bidang studi terkait dijadikan alat dan wahana untuk mempelajari dan
menjelajahi topik/tema tersebut. Dengan pendekatan terpadu akan terwujud ciri:
(a) pembelajaran berpusat pada anak; (b) memberikan pengalaman langsung pada
anak; (c) tidak menimbulkan adanya pemisahan bidang studi secara jelas; (d)
kedalaman hasil pembelajaran berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak
(Tim Pengembang PGSD. 1997). Sasaran integrasi/keterpaduan adalah
materi (bahan belajar) dan penyampaian pemaknaan. Sedangkan mengenai kegiatan
belajarnya yaitu multi metode, kelompok, individual, klasikal (penghayatan
langsung).
PENUTUP
A. Simpulan
1. Berdasarkan fungsinya dalam
memenuhi kebutuhan manusia, seni dipilah menjadi beberapa kelompok.
a. Fungsi
Individual. Fungsi individual ini dibagi menjadi fungsi fisik dan fungsi emosi.
b. Fungsi
Sosial. Fungsi ini dikelompokkan dalam beberapa bidang. Yaitu: Rekreasi/hibura, Komunikasi,
Edukasi/Pendidikan, Religi/Keagamaan.
2.
Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa senirupa memiliki fungsi didik
dalam pendidikan di SD. Fungsi didik tersebut adalah sebagai berikut ini:
a. Sebagai media ekspresi, yaitu
mengungkapkan keinginan, perasaan, pikiran melalui berbagai bentuk aktivitas
seni secara kreatif yang dapat menimbulkan kesenangan, kegembiraan dan kepuasan
anak.
b. Sebagai media komunikasi, yaitu
aktivitas berekspresi senirupa bagi anak untuk menyampaikan sesuatu/
berkomunikasi kepada orang lain yang diwujudkan pada karyanya.
c. Sebagai media bermain; maksudnya
media yang dapat memberikan kesenangan, kebebasan untuk mengembangkan perasaan,
kepuasan, keinginan, keterampilan seperti pada saat bermain. Cara bermain
kreatif dapat membuat kegiatan senirupa sebagai bagian dari kehidupan yang
menyenangkannya. Senirupa sebagai media bermain akan bermanfaat untk memberikan
hiburan yang bernilai edukatif, karena melalui bermain itulah anak belajar.
d. Sebagai media pengembangan
bakat seni, hal ini didasarkan bahwa semua anak punya potensi/ bakat yang harus
diberikan kesempatan sejak awal untuk dipupuk/ dikembangkan melalui aktivitas
senirupa dan kerajinan tangan sesuai kemampuannya. Meskipun kadar
potensi/bakat setiap anak bias berbeda dan juga berhubungan secara tidak
langsung dengan kecerdasannya.
e. Sebagai media untuk
mengembangkan kemampuan berpikir, yaitu penyaluran daya nalar yang dimiliki
anak untuk digunakan dalam melakukan kegiatan berolah senirupa. Anak yang
cerdas, cakap kemampuan pikirnya dapat menjadi pemicu munculnya daya
kreativitas seni. Dengan kecerdasan (kecerdasan emosional) yang dimilikinya
akan dapat digunakan untuk melakukan aktivitas seni dengan cepat, lancer dan
tepat serta mudah untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya.
f. Sebagai media untuk
memperoleh pengalaman esthetis, dimana melalui aktivitas penghayatan,
apresiasi, ekspresi dan kreasi seni di SD bisa memberikan pengalaman untuk
menumbuhkan sensitivitas keindahan dan nilai seni. Berolah
senirupa adalah pengalaman esthetis yang menarik bagi minat dan keinginan anak.
3. Pada dasarnya semua fungsi seni dapat
diaplikasikan ke dalam semua materi pembelajaran seni .
a. Fungsi seni sebagai media
ekspresi dapat diterapkan pada materi: kelompok gambar ekspresi, membentuk
bebas, menggambar ilustrasi, gambar imajinatif, relief dan membuat model.
b. Fungsi seni sebagai media komunikasi
dapat diaplikasikan pada materi yang dijabarkan dari pokok bahasan: gambar
ekspresi, kolase, montase, mozaik, gambar bentuk, gambar ilustrasi dengan tema
realis.
c. Fungsi seni sebagai media bermain
dapat diterapkan pada seluruh kegiatan pelajaran seni.
d.
Fungsi seni sebagai media pengembangan bakat seni dapat
diaplikasikan pada kegiatan yang bercirikan ketrampilan terutama pada
membentuk, menganyam, macramé, membuat model, dan relief.
e. Fungsi seni sebagai media berpikir
dapat dikembangkan terutama pada pokok bahasan: lipatan, kolase, montase,
mozaik, cetak, melengkaapi gambar, sablon, bangunan dan penataan, aplikasi
dengan teknik menjahit/sulaman.
B. Saran
Pendidikan
senirupa di SD umumnya diwujudkan pada kegiatan berolah cipta senirupa dan kerajinan
tangan. Pendekatan materi senirupa dalam pembelajaran di SD antara lain dapat
dilakukan melalui belajar tentang pengenalan elemen/unsure seni,
prinsip-prinsip seni/azas desain, proses dan teknik berkarya senirupa serta
apresiasi sesuai dengan nilai-nilai budaya serta keindahan yang relevan dengan
konteks sosial budaya masyarakat.
Selain
itu dalam pendidikan senirupa di SD hendaknya juga dapat diciptakan suasana
belajar yang “Aktif Kreatif Efektif dan Menyengkan (PAKEM). Secara bervariasi
dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru hendaknya menggunakan
strategi/pendekatan mengajar yang dapat memadukan keaktifan siswa dalam
belajar, baik secara fisik, mental dan emosional. Misalnya pendekatan
keterpaduan konseptual. Dalam implementasi di SD, pendekatan keterpaduan
konseptual ini antara lain bertolak dari
suatu topik/tema yang dipilih atau dikembangkan oleh guru bersama anak.
Tujuannya agar konsep-konsep dan aspek dari bidang studi terkait dijadikan alat
dan wahana untuk mempelajari dan menjelajahi topik/tema tertentu.
DAFTAR
PUSTAKA
Herawati, Ida Siti dan Iriaji. 1998.
Pendidikan Seni Rupa. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan kebudayaan Dirjen Pendidikan Tinggi.
Sumanah,
Anah. 20011. Pendidikan Seni Rupa di
Sekolah Dasar. http://spendajalaksana.blogspot.com/2011/10/pendidikan-seni-rupa-di-sekolah-dasar.html
diunduh 16 Maret 2012.
http://cahisisolo.com/artikel/seni/fungsi-dan-tujuan-seni-rupa.html diunduh 7 Maret 2012.
Komentar
Posting Komentar