HAKEKAT MANAJEMEN SEKOLAH
(PENGERTIAN, TUJUAN, FUNGSI, PRINSIP DAN RUANG LINGKUP)
A. Pengertian Manajemen Sekolah
Perkembangan teori manajemen erat kaitannya dengan perkembangan administrasi di negara-negara maju sebagai akibat dari perkembangan industri. Dalam perkembangannya istilah manajemen disamakan secara substansial dengan istilah administrasi. Perbedaan keduannya terletak pada ruang lingkupnya saja. Administrasi lebih luas ruang lingkupnya dibanding manajemen. Keduanya menekankan pada tercapainya efisiensi dan efektivitas kerja untuk keutungan yang lebih besar.
Pengertian manajemen sekolah sebenarnya merupakan aplikasi ilmu manajemen dalam bidang persekolahan. Ketika istilah manajemen diterapkan dalam bidang pemerintahan akan menjadi manajemen pemerintahan, dalam bidang pendidikan menjadi manajemen pendidikan, begitu seterusnya. Demikian pula istilah administrasi pendidikan, merupakan merupakan aplikasi ilmu administrasi ke dalam bidang pendidikan. Manakala istilah administrasi diterapkan pemerintahan menjadi administrasi pemerintahan, dalam bidang sekolah menjadi administrasi sekolah dan seterusnya.
Administrasi sekolah - manajemen sekolah. Penggunaan istilah administrasi dan menajemen dalam bidang persekolahan (juga dalam bidang pendidikan) secara substansial sebenaranya tidak jauh berbeda. Keduanya dipandang secara esensial dari tiga sudut pandang, yakni sebagai ilmu, sebagai seni dan sebagai proses kegiatan.
Sebagai ilmu, keduanya telah memenuhi persyaratan ilmu, yakni: pertama, keduanya dapat disebut sebagai ilmu karena ada objek yang dipelajari yakni kerjasama sekelompok orang. Kedua, keduanya memiliki metode dalam memperlajarinya. Ketiga, keduanya memiliki sistimatika baik dalam mempelajarinya maaupun dalam aplikasinya.
Administrasi manajemen dipandang sebagai seni, lebih ditekankan pada bagaimana seorang manajer dapat mempengaruhi dan mengajak orang lain untuk secara bersama-sama menyelesaikan suatu pekerjaan. Dalam hal ini seorang administrator (baca: manajer) dapat melakukan peran kepemimpinannya. Karenanya kepemimpinan merupakan jentungnya manajemen (baca: administrasi).
Administrasi maupun manajemen dipandang sebagai suatu proses kegiatan, didalamnya terdiri dari kegiatan yang bersifat manajerial dan kegiatan yang bersifat operatif. Kegiatan manajerial adalah kegiatan yang seyogyanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki status dan kewenangan sebagai manajer. Sedangkan kegiatan operatif adalah pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya diselesaikan oleh para palaksana lapangan. Kegiatan operatif ditujukan pada proses pemberdayaan sumber-sumber daya secara efektif dan efisien. Dalam hal ini efisiensi dan efektivitas merupakan tujuan akhir dari proses manajemen. Pemberdayaan sumber-sumber daya yang ada dalam suatu organisasi merupakan suatu hal-hal yang mutlak harus dilakukan manakala organisasi ingin berkembang secara optimal.
Kegiatan-kegiatan manajerial maupun kegiatan operatif akan dapat berjalan manakala ada suatu wadah yang disebut organisasi. Sebaliknya satu organisasi akan dapat berkembang secara optimal didalam mencapai tujuannya manakala didalamnya ada suatu proses kegiatan yang disebut proses pengorganisasian. Dengan demikian organisasi itu akan berkembang secara dinamis.
B. Tujuan Manajemen Sekolah
Pada hakekatnya tujuan manajemen sekolah tidak dapat terlepas dari tujuan sekolah sebagai suatu organisasi. Sekolah sebagai suatu organisasi memiliki tujuan yang ingin dicapai yang disebut tujuan institusional (kelembagaan) baik tujuan instiusional umum maupun tujuan institusional khusus.
Tujuan institusional umum mengacu pada jenjang dan jenis pendidikan, sedangkan tujuan institusional khusus disamping diwarnai dengan jenis dan jenjang pendidikan juga, diwarnai oleh penyelenggara pendidikan itu sendiri.
Suatu tujuan institusional (baik umum maupun khusus) akan tercapai manakala ada suatu proses kegiatan dalam lembaga (organisasi sekolah). Dengan kata lain tujuan institusi akan dapat tercapai tergantung dari bagaimana lembaga tersebut melakukan tugas kelembagaannya. Dalam melaksanakan tugan kelembagaan tersebut diperlukan adanya proses manajemen yang baik.
Proses manajemen yang baik manakala di dalamnya terdapat kegiatan manajerial dan operatif. Dengan demikian tujuan akhir dari manajemen sekolah adalah membantu memperlancar pencapaian tujuan sekolah agar tercapai secara efektif dan efisien. Kehadiran manajemen dalam proses persekolahan sebagai salah satu alat untuk membantu memperlancar pencapaian tujuan. Pencapaian tujuan sekolah dipengaruhi oleh banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam proses kegiatan sekolah. Dalam rangka merumuskan tujuan sekolah seorang manajer sekolah harus mempertimbangkan beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain: (1) Karakteristik; (2) Kemampuan dan keyakinan guru-guru; (3) Harapan-harapan masyarakat; (4) Aktivitas pemerintahan; (5) Aturan-aturan dan hukum-hukum yang berlaku dimasyarakat; (6) Masalah-masalah dan persoalan-persoalan serta pengaruh-pengaruh masyarakat. Tidak kalah pentingnya dari semuanya adalah sumber daya masyarakat baik sumber daya manusia maupun sumber daya alamnya. Sumber daya manusia merupakan sumber daya yang penting dan strategis, karena di tangan manusialah sumber daya lainnya dapat ditentukan. Selain hal-hal tersebut diatas faktor administrator dan kepemimpinan para pengelola yang ada dalam organisasi sekolah turut menentukan keberhasilan dan ketercapaian tujuan sekolah. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dari administrator dan kepemimpinan antara lain faktor pandangan hidupnya, ide-idenya, kemampuannya, gagasan-gagasannya maupun faktor keterampilannya. Dengan demikian diperlukan adanya keterlibatan semua komponen (man, material, money dan message), secara berdaya guna dan berhasil guna. Kegiatan manajemen tidak hanya diperlukan pada lingkup institusi atau kelembagaan saja, namun pada setiap tingkatan diperlukan aktivitas manajemen.
Manakala tujuan pada setiap jenjang dan jenis sekolah sebagai suatu organisasi pendidikan telah tercapai secara baik, maka diharapkan tujuan pendidikan nasional dapat tercapai. Tujuan pendidikan nasional dapat tercapai dengan baik diperlukan partisipasi aktif seluruh komponen masarakat. Persoalan yang muncul adalah bagaimana meningkatkan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan praktek-praktek pendidikan. Sehingga dengan demikian slogan pendidikan sebagai tanggungjawab bersama dapat direalisasikan dalam praktek.
Secara lebih rinci tujuan khusus dilaksanakannya manajemen sekolah yang baik agar: pertama, pada setiap jenis dan jenjang pendidikan terjadi adanya efektivitas produksi. Para lulusannya dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan di atasnya, dapat bekerja sesuai dengan pengetahuan dan keterampilannya. Kedua, tercapainya efisiensi penggunaan sumber daya dan dana, tidak terjadi pemborosan baik waktu, tenaga maupun uang dan yang lainnya. Ketiga, para lulusannya mampu menyesuaikan diri dalam kehidupan di masyarakat, dan Keempat, terciptanya kepuasan kerja pada setiap anggota warga sekolah. Untuk itu perlu dibangun suatu iklim organisasi sekolah yang sehat.
C. Fungsi-fungsi Manajemen Sekolah
Fungsi (dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1990) berkaitan dengan jabatan (pekerjaan) yang dilakukan. Fungsi manajemen sekolah berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan manajemen sekolah. Fungsi-fungsi yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah dapat diklasifikasikan menurut wujud problemnya, kegiatan manajemen dan kegiatan kepemimpinan.
Fungsi manajemen sekolah dilihat dari wujud problemnya terdiri dari bidang-bidang garapan (substansi) dan manajemen sekolah. Problema-problema yang merupakan bidang garapan dari manajemen sekolah terdiri dari:
a. Bidang pengajaran atau lebih luas disebut kurikulum
b. Bidang kesiswaan
c. Bidang personalia
d. Bidang keuangan
e. Bidang sarana
f. Bidang prasarana
g. Bidang hubungan sekolah dengan masyarakat (humas)
Fungsi manajemen sekolah dilihat dari akivitas atau kegiatan manajemen, meliputi:
a. Kegiatan manajerial yang dilakukan oleh para pimpinan. Kegiatan manajerial meliputi:
1) Perencanaan
2) Pengorganisasian
3) Pengarahan
4) Pengkoordinasian
5) Pengawasan
6) Penilaian
7) Pelaporan, dan
8) Penentuan anggaran
b. Kegiatan yang bersifat operatif, yakni kegiatan yang dilakukan oleh para pelaksana. Kegiatan ini berkaitan langsung dengan pencapaian tujuan. Artinya, bagaimanapun baiknya kegiatan manajerial (seperti perencanaan) tanpa didukung oleh pelaksanaan pekerjaan yang elah direncanakan tersebut, mustahil tujuan organisasi dapat dicapai dengan baik. Fungsi operatif ini meliputi pekerjaan-pekerjaan:
1) Ketatausahaan yang dapat merembes dan dapat diperlukan oleh semua unit yang ada dalam organisasi
2) Perbekalan
3) Kepegawaian
4) Keuangan dan
5) Humas
Dalam suatu proses kegiatan organisasi kedua fungsi tersebut (fungsi manajerial dan fungsi operatif) saling menunjang, saling mempengaruhi, saling memerlukan dan saling mengisi satu sama lain.
Dalam setiap fungsi saling memerlukan, sebagai contoh: bagian kepegawaian dalam pelaksanaannya memerlukan fungsi manajerial dan perencanaan sampai dengan penentuan anggaran (seperti: penggajian, pemberian honor, dan sebagainya).
Fungsi manajemen sekolah dilihat sebagai kegiatan kepemimpinan lebih ditekankan bagaimana cara manajer dapat mempengaruhi, mengajak orang lain serta mengatur hubungan dengan orang lain agar bekerja sama mencapai tujuan. Dalam hal ini seorang manajer sekolah hendaknya dapat menerapkan pola kepemimpinan yang efektif. Pola kepemimpinan yang efektif adalah suatu gaya atau modal kepemimpinan yang memperhatikan dimensi-dimensi hubungan antar manusia (human relation), dimensi pelaksanaan tugas dan dimensi situasi dan kondisi dimana kita berada.
D. Prinsip-prinsip Manajemen Sekolah
Yang dimaksud dengan prinsip (dalam kamus Umum Bahasa Indonesia, 1990) adalah dasar, azaz (kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir, bertindak). Prinsip dalam tulisan ini landasan-landasan yang dijadikan dasar dalam dalam melaksanakan fungsi atau pekerjaan-pekerjaan manakeman sekolah. Dalam pengelolaan sekolah agar dapat mencapai tujuan sekolah dengan baik, maka perlu mendasarkan pada prinsio-prinsip manajemen sebagai berikut:
a. Prinsip efisiensi yakni dengan penggunaan modal yang sedikit dapat menhasilkan hasil yang optimal.
b. Prinsip efektivitas, yakni ketercapaian sasaran sesuai tujuan yang diharapkan
c. Prinsip pengelolaan, yakni seorang manajer harus melakukan pengelolaan sumber-sumber daya yang ada
d. Prinsip pengutamaan tugas pengelolaan, yakni seorang manajer harus mengutamakan tugas-tugas pokoknya. Tugas-tugas yang bersifat operatif hendaknya dilimpahkan pada orang lain secara proposional . manakala seorang manajer telah melimpahkan tugas kepada orang lain, tanggung jawab tetap ada pada pimpinan.
e. Prinsip kerjasama, yakni seorang manajer hendaknya dapat membangun kerjasama yang baik secara horizontal
f. Prinsip kepemimpinan yang efekif, yakni bagaimana seorang manajer dapat memberi pengaruh, ajakan pada orang lain untuk tujuan bersama.
E. Ruang Lingkup Manajemen Sekolah
Yang dimaksud dengan ruang lingkup dalam tulisan ini adalah luasnya bidang garapan manajemen sekolah. Di muka telah disebutkan bahwa dilihat dari wujud problemanya manajemen sekolah secara substansial meliputi bidang garapan antara lain:
a. Bidang kurikulum (pengajaran)
b. Bidang kesiswaan
c. Bidang personalia yang mencakup tenaga edukatif dan tenaga administrasi
d. Bidang sarana yang mencakup segala hal yang menunjang secara langsung pada pencapaian tujuan
e. Bidang prasarana, mencakup segala hal yang menunjang secara tidak langsung pada pencapaian tujuan
f. Bidang hubungan dengan masyarakat, berkaitan langsung dengan bagaimana sekolah dapat menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar.
Semua bidang garapan manajemen sekolah ini harus dikelola dengan memperhatikan aktivitas-aktivitas manajerial dan didukung oleh aktivitas pelaksana. Dengan demikian akan terjadi sinergi dalam pencapaian tujuan sekolah.
F. Istilah-istilah yang Berkaitan dengan Pengertian Manajemen
Sebagaimana dikemukakan pada sub bab sebelumnya, istilah manajemen disamakan secara substansial dengan istilah administrasi. Manakala kita membahas administrasi maka di dalamnya ada aktivitas manajemen , ada aktivitas organisasi, ada aktivitas kepemimpinan, dan inti dari semuanya adalah pengambilan keputusan dan pengambilan keputusan tersebut haruslah manusiawi. Artinya, bahwa bahwa pengambilan keputusan yang dilakukan harus dapat diterima oleh manusia pada umumnya. Yakni, manusia yang memiliki kekuaan, kelemahan, manusia sebagai makhluk sosial sekaligus yang juga memiliki kepentingan individu dan seterusnya.
Komentar
Posting Komentar